Rocky Gerung Ajak Taruna STPN Memahami Filosofi dan Makna Tanah

Desi Rossilawati Abdul Ghofur
Sabtu, 5 September 2026 | 09:40 WIB
Bagikan
Rocky Gerung Ajak Taruna STPN Memahami Filosofi dan Makna Tanah

akademisi dan filsuf Rocky Gerung dalam Kuliah Umum Politeknik Agraria STPN di Sleman, Jumat (4/9/2026)./visi.news/ist.

VISI.NEWS – Tanah tidak seharusnya dipahami hanya sebagai benda yang dapat dimiliki atau diperjualbelikan. Lebih dari itu, tanah memiliki makna sosial, historis, budaya, hingga ekonomi yang perlu dipahami secara utuh oleh para calon insan pertanahan.

Pandangan tersebut disampaikan akademisi dan filsuf Rocky Gerung dalam Kuliah Umum Politeknik Agraria STPN di Sleman, Jumat (4/9/2026). Di hadapan sekitar 500 taruna dan taruni, termasuk calon wisudawan dan wisudawati, Rocky mengajak generasi muda bidang pertanahan untuk melihat persoalan tanah dari berbagai perspektif.

Menurutnya, terdapat tiga konsep besar dalam memahami keberadaan tanah. Pertama, tanah yang memiliki hubungan turun-temurun dan berkaitan dengan sejarah masyarakat. Kedua, tanah yang memiliki fungsi sosial melalui pengaturan negara. Ketiga, tanah sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi.

“Tanah tidak semata-mata dimiliki oleh orang, korporasi, maupun negara. Ada konsep turun-temurun, ada fungsi sosial oleh negara, dan ada tanah sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomis,” ujar Rocky.

Perbedaan cara pandang tersebut, menurut Rocky, menjadikan tanah memiliki arti yang tidak selalu sama bagi setiap pihak. Dalam kehidupan masyarakat adat, tanah dapat berkaitan dengan identitas, warisan leluhur, bahkan nilai spiritual. Sementara negara melihat tanah sebagai bagian dari ruang yang harus diatur untuk kepentingan masyarakat. Di sisi lain, dunia usaha memandang tanah sebagai aset yang memiliki nilai ekonomi.

Karena itu, Rocky menilai konflik agraria tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan perebutan bidang tanah. Konflik yang muncul juga berkaitan dengan perbedaan cara memaknai hak, fungsi, serta tujuan penguasaan tanah.

“Konflik agraria pada dasarnya juga merupakan konflik pemaknaan. Yang dipertentangkan bukan hanya tanahnya, tetapi apa makna tanah tersebut dan untuk apa tanah itu dikuasai,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rocky juga mengajak para calon lulusan Politeknik Agraria STPN untuk melihat hubungan manusia dengan tanah secara lebih filosofis. Ia menekankan bahwa usia manusia dan negara jauh lebih singkat dibandingkan keberadaan tanah yang telah ada jauh sebelum kehidupan modern terbentuk.

Halaman :

Tags:

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.