REFLEKSI | Penglihatan Batin, Penglihatan Normal dan Logika
Para Aulia lainnya bahkan menginggatkan, "nafsunya sudah ia ikat dibawah telapak kakinya !" Artinya apa semua itu ?
Yang ada dalam pandangnya, yang ia lakukan dalam hidupnya, adalah membalut dirinya selalu setiap saat untuk berahlaqul Karimah, berahlaq mulia, menjauhkan sikap benci pada hatinya, jauh dari rasa mendendam, yang jika itu masih menempel pada hamba yang memiliki Mukasyafah tersebut, maka nilai kemulyaannya tak jauh dari Iblis, yang menyimpan dendam, kebencian, dan keburukan sifat lainnya, yang secara tak sadar menjauhkannya dari kemulyaan haqiqi yang Allah inginkan. Lantas apa bedanya ia dengan Iblis tersebut ?
Untuk mereka yang merasa memiliki kemukasyafahan, itu adalah ujian ! Syaitan sangat dekat dan bisa jadi menunggu kelengahannya, beruntunglah manusia yang tak di amanahi keladunian,dan kemukasyafahan itu, ia tak dibebani beban berat yang andai tak bisa ia jaga, maka akan tergelincirlah dalam permainan syetan, yang akan membuatnya merasa paling benar, merasa paling suci, dan akhirnya tindakannya diluar kontrol hatinya yang hanif.
Menempatkan diri menjadi manusia yang normal, dengan pandangan terbatas atas pandangan lahiriah, adalah anugerah Allah yang paling baik, untuk seseorang yang terus memproses dirinya menjadi mulia, bijak, dan berpengetahuan.
Berpandangan, dan berpenglihatan secara normal, menuntun jalan kita pada penggunaan nalar, logika, kecerdasan, dengan landasan ilmu yang kita telah himpun, itu merupakan anugrah yang terbesar, nikmat pemberian dari Allah yang luar biasa, atas adanya potensi akal pikiran, yang menjadikan kita mahluk mulia karena dilebihkan Allah daripada mahluk lainnya, oleh sebab hal ini (akal pikiran ) yang Allah hadiah pada manusia.
Untuk orang tertentu, yang Allah beri keterbatasan hanya bisa memandang dengan pandangan normal, itu harus kita syukuri sepenuh hati, sebab dengan keterbatasan itu, kita terus belajar menuntun logika kita secara benar, mau ber Iqro, dan selalu berusaha mendekatkan diri, agar Allah menjadikan kita orang yang selamat saat di dunianya, dan begitupun nanti pada saat di akhiratnya, sehingga jangan sampai kebaikan Allah dengan membuka kebaikan dalam bentuk Mukasyafah yang dianugerahkan pada diri kita, menjadi bentuk munculnya Istidraj yang merusak amal baik kita, dan jadi senjata makan tuan bagi kitanya. Alhamdulillah.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!