REFLEKSI | Penglihatan Batin, Penglihatan Normal dan Logika
Perhatikan ketika Nabi di lempari batu oleh oleh penduduk Thaif, bukankah dalam kisah yang kita dengar, kita baca, Malaikat Jibril sampai naik pitam, marah ia pada penduduk Thaif, sampai-sampai karena kuasanya malaikat Jibril yang mampu memberi azab, ia menawarkan diri pada Nabi untuk memberi pelajaran pada penduduk Thaif, dengan azab yang siap ia timpakan, dan tentunya, azab itu, akan sangat pedih diterima penduduk Thaif yang durhaka pada Nabi Muhammad SAW.
Tapi apa yang Nabi SAW katakan, karena beliaunya di beri mukasyafah oleh Allah, ia malah mendoakan kebaikan pada penduduk Thaif itu, sehingga malaikat Jibril malu karena ia telah sangat kegegabah telah menawarkan kerusakan dengan siap memberi azab, di banding Nabi yang melihat manusia (penduduk Thaif) dengan penuh rasa kasih sayangnya, subhanallah!
Disini kita faham, keteladanan Nabi SAW, diberi kemampuan mukasyafah justru semakin membuat hatinya semakin tajam, dan semakin memiliki kelembutan dan kasih sayang.
Lantas bagaimana jika Nabi SAW melibatkan emosinya, melibatkan rasa sakitnya, dan timbul kebenciannya ?
Bisa jadi Iblis, musuh abadi kita, akan tertawa dan jadi pemenang ! Semakin jumawa tentunya Iblis, dan menganggap mukasyafah sebagai anugrah Allah pada manusia tak berarti baginya, sebab tetap saja manusia bisa ia jerumuskan, dan mudah justru menjerumuskan mereka yang memiliki mukasyafah tapi tidak waspada dan hati-hati, dengan demikian, hanya dengan mengompori rasa benci, yang melibatkan emosi, bisa hancur keimanannya dan ketaqwaannya pada Allah.
Titik lemah inilah yang para wali, orang-orang suci jaga ! Mereka memiliki anugrah ilmu laduni, pandangan batin, terbukanya tirai keghaiban alam semesta, tak semata-mata mereka jadikan modal memperlihatkan kelebihannya itu, dan menunjukan diri sebagai orang sakti mandraguna.
Sebagian besar tak mau tertipu, dan akhirnya ia bisa menyimpang. Karena antara kebaikan Iman, dan keburukan nafsu, batasnya hanya setipis kulit bawang, sangat tipis sekali jarak pembatasnya, sehingga banyak para wali, orang sholeh, justru menyembunyikan kelebihannya, dan baru di ketahui banyak orang kelebihannya, atau kemampuan khorikulil adat (diluar kebiasaan adat / kelebihan ilmu laduninya )setelah wafatnya, subhanallah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!