REFLEKSI | Penglihatan Batin, Penglihatan Normal dan Logika

ED
Senin, 30 Mei 2022 | 14:19 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Penglihatan Batin, Penglihatan Normal dan Logika

Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.

WERUH sedurunge winarah, merupakan bentuk dibukakannya tabir hijab keghaiban, yang disebut dalam pemahaman para sufi dengan nama mukasyafah, atau kemampuan melihat secara batin dimana manusia yang di anugrahi hal tersebut, Allah bukakan tirai segala rahasia-rahasia alam yang tersembunyi.

Mukasyafah dapat dibagi menjadi dua yaitu: mukasyafahrububuiyah yaitu: terbukanaya tirai­-tirai ke-Tuhanan. Dan mukasyafahghaibiyah yaitu terbukanya tirai-tirai rahasia selain Allah, yaitu segala sesuatu yang tidak bisa dijamah dan dijangkau oleh indra dzohir manusia.

Penglihatan manusia untuk sampai pada tahapan ini, tentunya atas seizinNya, Allah menganugerahkan kebaikan baginya, untuk tugasnya, dalam peran, memberi manfaat dan kemaslahatan bagi orang lain, dari adanya kemampuan yang ia dapatkan itu.

Pada beberapa kasus manusia yang memiliki kemampuan ini, ia menyembunyikan hal khusus tadi, dengan tidak memperlihatkan kemampuan tersebut, dikarenakan Allah menjaganya dari perbuatan yang akan menyakitkan orang lain, dengan ilmu yang ia miliki.

Ini hampir sama dengan membuatnya jauh dari riya, ujub, sombong, yang bisa sewaktu-waktu tanpa sadar, Iblis bisa menunggangi itu untuk kepentingannya sendiri, memenangkan perang abadinya dengan manusia yang hendak ia gelincirkan.

Maka mereka yang memiliki pandangan dan penglihatan batin yang baik, ia akan menjaga Ahlaqnya, dan menjaga ; 1. Ia akan menjaga lisannya, dan tulisannya. 2. Ia akan menjaga perilakunya. 3. Ia akan menjaga perasaan pihak lainnya. 4. Ia akan sangat faham permainan Allah 5. Ia akan sangat tahu batasannya. 6. Tidak sombong, tidak angkuh, dan tidak sok suci. 7. Ia menjaga dirinya dari kesesatan syaitan yang sudah siap ikut mempengaruhinya, jika ia lengah.

Dan seperti halnya contoh yang didapat dari Nabi kita, ia akan selalu berkata penuh hikmah, penuh kesantunan, kehati-hatian, dan spirit yang di munculkannya adalah, spirit membangun, mensupport, dan mendoakan kebaikan, dibanding berkata menyakitkan, mengancam, menakut-nakuti, yang mana bentuk luapan kata-kata yang keluar itu, sudah pasti, itu dalam koridor emosionalnya, yang mempengaruhi psikologis seseorang, yang bisa merusak mental, membuat down, yang sangat kontra produktif dengan spirit, " rahmatan lil alamin," yang dititipkan Allah, sebagai pesan kepada umat Nabi, untuk menjadi manusia yang memberi rahmatan lil alamin kepada semua mahluk, khususnya ini ditujukan pada muslim yang baik.

Perhatikan ketika Nabi di lempari batu oleh oleh penduduk Thaif, bukankah dalam kisah yang kita dengar, kita baca, Malaikat Jibril sampai naik pitam, marah ia pada penduduk Thaif, sampai-sampai karena kuasanya malaikat Jibril yang mampu memberi azab, ia menawarkan diri pada Nabi untuk memberi pelajaran pada penduduk Thaif, dengan azab yang siap ia timpakan, dan tentunya, azab itu, akan sangat pedih diterima penduduk Thaif yang durhaka pada Nabi Muhammad SAW.

Tapi apa yang Nabi SAW katakan, karena beliaunya di beri mukasyafah oleh Allah, ia malah mendoakan kebaikan pada penduduk Thaif itu, sehingga malaikat Jibril malu karena ia telah sangat kegegabah telah menawarkan kerusakan dengan siap memberi azab, di banding Nabi yang melihat manusia (penduduk Thaif) dengan penuh rasa kasih sayangnya, subhanallah!

Disini kita faham, keteladanan Nabi SAW, diberi kemampuan mukasyafah justru semakin membuat hatinya semakin tajam, dan semakin memiliki kelembutan dan kasih sayang.

Lantas bagaimana jika Nabi SAW melibatkan emosinya, melibatkan rasa sakitnya, dan timbul kebenciannya ?

Bisa jadi Iblis, musuh abadi kita, akan tertawa dan jadi pemenang ! Semakin jumawa tentunya Iblis, dan menganggap mukasyafah sebagai anugrah Allah pada manusia tak berarti baginya, sebab tetap saja manusia bisa ia jerumuskan, dan mudah justru menjerumuskan mereka yang memiliki mukasyafah tapi tidak waspada dan hati-hati, dengan demikian, hanya dengan mengompori rasa benci, yang melibatkan emosi, bisa hancur keimanannya dan ketaqwaannya pada Allah.

Titik lemah inilah yang para wali, orang-orang suci jaga ! Mereka memiliki anugrah ilmu laduni, pandangan batin, terbukanya tirai keghaiban alam semesta, tak semata-mata mereka jadikan modal memperlihatkan kelebihannya itu, dan menunjukan diri sebagai orang sakti mandraguna.

Sebagian besar tak mau tertipu, dan akhirnya ia bisa menyimpang. Karena antara kebaikan Iman, dan keburukan nafsu, batasnya hanya setipis kulit bawang, sangat tipis sekali jarak pembatasnya, sehingga banyak para wali, orang sholeh, justru menyembunyikan kelebihannya, dan baru di ketahui banyak orang kelebihannya, atau kemampuan khorikulil adat (diluar kebiasaan adat / kelebihan ilmu laduninya )setelah wafatnya, subhanallah.

Untuk mereka yang memiliki kemampuan mukasyafah, anugrah Allah itu adalah ujian ! Allah tak semata-mata menitipkan itu, jika tak memiliki maksud dan tujuan !

Allah maha memproses, menjadikan manusia dewasa dengan perjalanan pengalaman spiritualnya dengan kelebihan yang dimiliki.

Itu sebagai jalan Tuhan, dalam memberi cobaan, apakah ia bersyukur atas ilmunya itu, dan menjadikannya manusia yang tawadhu, berhati halus, bertutur lembut, dan hati-hati dalam menjaga hubungan baiknya antara manusia, yang harus saling menghormati dan menjaga silaturahminya.

Andai ia tak bisa menjaga kemukasyafahannya, dan bicaranya tak bisa menjaga perasaan manusia normal lainnya, alangkah baiknya, bicara saja seperti layaknya manusia normal yang tak memiliki pandangan batin yang tajam, yang tak diberi kemampuan menguliti kesejatian manusia lainnya, sehingga pandangan normalnya menuntun ia berbicara hati-hati, dan tak menghakimi, dan berprasangka buruk terhadap sesuatu hal.

Dengan demikian, Allah perjalankan prosesnya, menuntunnya, dalam menjadikannya dewasa di proses perolehan keimanannya, ketaqwaannya, dan kesolehan sosialnya.

Ada sandaran dari argument, jawaban untuk jadi pembenaran ketika Mukasyafah disalahgunakan dengan mengambil cerita Nabi Khidir saat bersama Nabi Musa, dalam sebuah kisah yang ada dalam Qu'ran, yang menceritakan kelebihan Khidir, di semua situasi perjalanan di kisah tersebut, itu menjadi hujjah bagi pembenaran apa yang di argumentkan !

Hal ini akhirnya harus di telaah dan dimaknai secara logika pula, tidak di sandarkan sepenuhnya pada peristiwa kearifan, jika hal ini hanya dijadikan argumen untuk suatu pembenaran, dari di salahgunakannya kemampuan Mukasyafah itu. Bukankah antara keimanan dan kemusyrikan itu setipis kulit bawang ?

Kembali lihat, ke angunan Bapaknya para sufi, yakni Hasan Al Basri, yang berbicara,“Berhati-hatilah terhadap dunia ini dengan segala kewaspadaan; karena ia seperti seekor ular, halus saat disentuh, tetapi racunnya mematikan.”

Para Aulia lainnya bahkan menginggatkan, "nafsunya sudah ia ikat dibawah telapak kakinya !" Artinya apa semua itu ?

Yang ada dalam pandangnya, yang ia lakukan dalam hidupnya, adalah membalut dirinya selalu setiap saat untuk berahlaqul Karimah, berahlaq mulia, menjauhkan sikap benci pada hatinya, jauh dari rasa mendendam, yang jika itu masih menempel pada hamba yang memiliki Mukasyafah tersebut, maka nilai kemulyaannya tak jauh dari Iblis, yang menyimpan dendam, kebencian, dan keburukan sifat lainnya, yang secara tak sadar menjauhkannya dari kemulyaan haqiqi yang Allah inginkan. Lantas apa bedanya ia dengan Iblis tersebut ?

Untuk mereka yang merasa memiliki kemukasyafahan, itu adalah ujian ! Syaitan sangat dekat dan bisa jadi menunggu kelengahannya, beruntunglah manusia yang tak di amanahi keladunian,dan kemukasyafahan itu, ia tak dibebani beban berat yang andai tak bisa ia jaga, maka akan tergelincirlah dalam permainan syetan, yang akan membuatnya merasa paling benar, merasa paling suci, dan akhirnya tindakannya diluar kontrol hatinya yang hanif.

Menempatkan diri menjadi manusia yang normal, dengan pandangan terbatas atas pandangan lahiriah, adalah anugerah Allah yang paling baik, untuk seseorang yang terus memproses dirinya menjadi mulia, bijak, dan berpengetahuan.

Berpandangan, dan berpenglihatan secara normal, menuntun jalan kita pada penggunaan nalar, logika, kecerdasan, dengan landasan ilmu yang kita telah himpun, itu merupakan anugrah yang terbesar, nikmat pemberian dari Allah yang luar biasa, atas adanya potensi akal pikiran, yang menjadikan kita mahluk mulia karena dilebihkan Allah daripada mahluk lainnya, oleh sebab hal ini (akal pikiran ) yang Allah hadiah pada manusia.

Untuk orang tertentu, yang Allah beri keterbatasan hanya bisa memandang dengan pandangan normal, itu harus kita syukuri sepenuh hati, sebab dengan keterbatasan itu, kita terus belajar menuntun logika kita secara benar, mau ber Iqro, dan selalu berusaha mendekatkan diri, agar Allah menjadikan kita orang yang selamat saat di dunianya, dan begitupun nanti pada saat di akhiratnya, sehingga jangan sampai kebaikan Allah dengan membuka kebaikan dalam bentuk Mukasyafah yang dianugerahkan pada diri kita, menjadi bentuk munculnya Istidraj yang merusak amal baik kita, dan jadi senjata makan tuan bagi kitanya. Alhamdulillah.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.