REFLEKSI | Mengalah
Nabi Muhammad SAW, merupakan manusia dengan tingkat daya kesadaran, dalam hal mengalah, telah mencapai puncak yang maha tinggi, dan malaikat Jibril pun tak bisa memahaminya.
Nabi sudah bagai pribadi selembut embun, ia ringan bagai kapas yang tak berbeban. Kasih sayangnya seluas ujung barat sampe ke timur, dimana dendam tak bisa menempel padanya walaupun hanya sebutir atom, dan sekecil dzarah sekalipun.
Dia sangat mencintai kehidupan mahluk ! Malah yang jahat aniaya ia cintai, yang kasar ia doa kan. Dan yang pernah menyakitinya ia maafkan. Tak ada dendam yang menggelayut dalam hatinya.
Sehingga dengan pribadi Nabi yang demikian. Setiap mahluk yang memiliki naluri, akan tumbuh kesadaran dengan sendirinya, walaupun Nabi sudah tiada.
Dan inilah yang terus terjadi, ada keberkahan dari sifat Nabi yang mau mengalah, yang terasa sampai sekarang, hingga getar kekuatan daya mengalah itu, mampu menyentil kesadaran manusia dari generasi ke generasi, hingga sampai akhir nanti.
Tidakkah kita sadar akan pentingnya mau mengalah ? Selain bisa menyelamatkan diri kita, kitapun akan mampu menyelamatkan keselamatan orang lain di luar diri kita.
Bahkan peristiwa dasyat dari cerita hidup Nabi kita, yang patut kita tiru adalah, mau terus berbuat baik, pada orang yang menjahatinya. Apakah ini pernah, atau sering dilakukan oleh kita ? Bukan kah kita mengaku umat Nabi ! Pernahkah kita mau mengalah, dan menyelamatkan kehidupan orang lain, dari sasaran kemarahan kita !
Nabi melakukan hal yang mustahil seperti itu, untuk dijadikan sebagai pedoman, pelajaran bagi umatnya, tentunya bagi mereka yang mau berpikir, dan mau mendapatkan rahasia dari kemulian !
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!