- Catatan Hari ke-15: tentang tamu agung, kafe yang penuh, dan shaf yang kosong.
Oleh Didi Subandi
Lokasi: Cimenyan.
Waktu: Kamis, 5 Maret 2026. Pukul 06.11 WIB.
Suasana: Sisa embun masih menempel pada gelas sahur yang kosong. Purnama semalam baru saja memudar, meninggalkan kita di satu titik puncak yang sunyi: Hari ke-15.
PAGI INI, cobalah menatap ke luar jendela sebelum dunia
kembali bising.
Kita
telah tiba di separuh
jalan. Namun, alih-alih menemukan kedalaman spiritual, kita justru sedang terjangkit sebuah sindrom massal yang tragis: Kita sedang bersiasat mengusir Ramadan pelan-pelan.
Secara filosofis, kita tidak lagi memperlakukan bulan ini sebagai
madrasah pencucian jiwa. Kita menurunkannya menjadi sekadar "ruang tunggu" yang membosankan.
Kita duduk di dalamnya
bukan untuk menetap dan merenung, melainkan sambil terus melirik jam dinding, mengetuk-ngetukkan jari dengan gelisah, menunggu gerbang
1 Syawal segera dibuka.
Mari kita bedah arsitektur batin kita yang mulai keropos dan salah arah di hari ke-15 ini:
1. Menyusutnya Shaf dan Estetika Kesalehan
Di hari pertama, kesalehan adalah sebuah perayaan visual.
Masjid penuh sesak, wangi parfum menguar, karpet tak bersisa. Namun hari ini,
seleksi alam itu memamerkan wajah aslinya. Shaf merangsek maju ke depan, menyisakan ruang kosong yang melompong di belakang.
Ternyata, euforia awal kita hanyalah
kosmetik. Ketika ritme mulai monoton dan euforia menguap, ketahanan batin kita runtuh. Kita membuktikan bahwa kita lebih mencintai "perayaan"
ibadah, ketimbang "kesunyian" ibadah itu sendiri.
2. Transmigrasi Kiblat
Secara biologis, lambung kita memang masih taat menahan lapar. Tapi secara imajinasi, kita sudah berbuka sejak lama.
Di pertengahan bulan ini, kiblat batin kita diam-diam bergeser. Mata fisik kita mungkin menatap lembaran Al-
Quran, tapi mata batin kita sedang melakukan
tawaf mengelilingi etalase toko
online. Kita lebih fasih menghitung
estimasi turunnya
THR daripada menghitung dosa yang belum diampuni. Tubuh kita ruku' di atas
sajadah, tapi jiwa kita sudah mengepak koper untuk
mudik.
3. Teater Validasi Bernama "Buka Bersama"
Inilah ironi paling epik di pertengahan Ramadan. Di saat jalanan menuju masjid makin sepi,
daftar reservasi restoran dan kafe justru penuh sesak. Kita merayakan sebuah
karnaval sosial berkedok
silaturahmi bernama Buka Bersama.
Di meja-meja itu, esensi menahan hawa nafsu dikhianati secara brutal.
Puasa seharian seolah hanya menjadi prasyarat (
tiket masuk) untuk ikut pesta balas dendam
kelaparan di waktu Maghrib.
Lebih menyedihkan lagi, Bukber seringkali berubah menjadi etalase kesombongan tak kasat mata siapa yang jabatannya paling mentereng, siapa yang datang bawa mobil baru, siapa yang penampilannya paling glowing. Magrib lewat di jalanan
macet, Isya menguap di sela obrolan kosong, dan
Tarawih resmi dicoret dari
jadwal demi validasi sosial. Kita menjadikan
agama sebagai tirai penutup panggung
pameran kita.
Memoles Bungkus Mengabaikan Bangkai
Fajar di Cimenyan sudah sepenuhnya terang, menyisakan satu realita yang menampar akal
sehat.
Kita ini bangsa yang sangat terobsesi pada
kulit luar. Kita menyebut Idul Fitri sebagai "hari kembali suci". Tapi lihatlah cara kita menyambutnya. Kita sibuk mengecat ulang tembok
rumah, membeli karpet baru, menyetrika baju
Lebaran yang masih wangi toko, dan menyusun jadwal bukber setiap hari.
Kita memoles casing
kehidupan kita habis-habisan, seolah-olah Tuhan dan
manusia hanya akan menilai kita dari seberapa mengkilap ruang tamu dan tongkrongan kita.
Sementara itu, di dalam dada?
Dendam pada rekan
kerja masih menyala. Kesombongan karena merasa
sukses di acara reuni makin menebal.
Empati pada yang miskin hanya sebatas rutinitas lembar
rupiah di kotak amal agar dilihat teman semeja. "
Isi" jiwa kita tetap usang, berdebu, dan compang-camping.
Kita memperlakukan Ramadan seperti kuli bangunan yang merenovasi rumah kita. Saat pekerjaannya belum selesai, kita sudah risih melihat debunya, muak mendengar suara palunya, dan ingin cepat-cepat mengusirnya agar kita bisa segera menggelar pesta.
Teruskanlah.
Teruskanlah mengusir Ramadan. Teruslah sibuk menghitung hari kepulangannya dan berpindah dari satu kafe ke kafe lain.
Toh, pada akhirnya, tujuan utama kita berpuasa selama 30 hari ini memang bukan untuk membunuh ego dan menundukkan kesombongan.
Kita berpuasa hanya agar ukuran perut kita sedikit mengecil, supaya muat saat dipaksa masuk ke dalam baju Lebaran yang baru kita beli.
Selamat pagi. Jangan sampai telat booking meja untuk bukber nanti sore..ya...
Renungan Hari ke-15 dari Puncak Cimenyan.