REFLEKSI | Mengalah
Dari mulai ia di benci oleh kaumnya, ia diam, membiarkan. Di tuduh macam-macam dan di fitnah keji sebagai seorang yang gila dan hilang ingatan, ia tak bereaksi, tak mencoba menjawab fitnah tersebut, dan tetap membiarkan fitnah itu hingga viral di tengah kaumnya, hingga akhirnya, malah mereka kaum Quraisynya sendiri, yang kebingungan menghadapi sang Nabi.
Sampai pada kaum Quraisy itu, para pemukanya membujuk Nabi, agar mau sadar kembali, bahkan mereka siapkan harta berlimpah, agar mau menerima apa yang mereka bawa, asal Nabi kembali ke kepercayaan asli kebanyakan kaum Quraisy saat itu, kisah ini seperti yang banyak di kisahkan.
Belum lagi cerita Nabi dijahili, beliaunya sengaja di jebak, di cari-cari untuk di aniaya, bahkan hendak di bunuh pula.
Hal ini dapat kita kita telisik dari beberapa kejadian, bagaimana sikap mengalahnya itu, bahkan mengharuskan ia untuk lebih baik bersembunyi, dari pada melakukan perlawanan, hal ini tergambar dari kejadian Nabi saat ia harus bersembunyi di Gua Tsur, yang jaraknya 7 Kilometer dari Kota Mekkah.
Belum lagi saat ia di lempari batu, di lempari kotoran oleh penduduk Thaif hingga berdarah-darah, ia lebih baik membesarkan rasa sabar, dan mengalah pergi, sambil tak henti mendoakan kebaikan untuk penduduk Thaif yang melemparinya.
Ini sungguh suatu hal yang di luar logika akal manusia kebanyakan, tak ada manusia yang sekuat itu rasa kesadaran dirinya, sampai harus mengalah, bahkan malaikat Jibril pun sampai geram, inginnya memusnahkan, bahkan mau mengazab penduduk Thaif.
Menghindari marah, mau mengalah, dan malah mendoakan kebaikan untuk mereka yang menyakitinya, merupakan cara menjauhkan kita dari masalah berkelanjutan yang lebih besar lagi.
Adakah masih ada manusia semacam itu di jaman sekarang ? Bagaimana kesadaran kita untuk bisa mengalah itu tumbuh ?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!