Pulau Kabaena Dirusak Aktivitas Tambang, Daniel Johan : Jangan Cari Keuntungan Tapi Korbankan Rakyat

ED
Rabu, 4 Desember 2024 | 20:35 WIB
Bagikan
Pulau Kabaena Dirusak Aktivitas Tambang, Daniel Johan : Jangan Cari Keuntungan Tapi Korbankan Rakyat

Akibat gempuran penambangan, Pulau Kabaena yang semestinya menjadi tujuan wisata karena keindahan bukit, hutan, dan laut birunya, kini kondisinya sangat memprihatinkan. Panorama biru laut di Pulau Kabaena menjadi cokelat berlumpur dan memunculkan berbagai dampak buruk terhadap lingkungan serta kehidupan masyarakat setempat.

Lebih dari satu dekade terakhir, air laut di Desa Baliara, Kabaena, berubah warna menjadi cokelat. Kegiatan tambang di atas bukit diduga menghapus area resapan air, sehingga saat hujan deras, lumpur terbawa ke laut. Endapan lumpur itu sulit diangkat dan menyebabkan laut terus tercemar.

Keruhnya air laut tak hanya mengganggu ekosistem tetapi juga menyebabkan gatal-gatal di kalangan warga yang sering bersentuhan dengan air tersebut. Mayoritas penduduk yang merupakan nelayan dan petani rumput laut saat ini semakin sulit membudidayakan rumput karena lautnya tercemar.

“Aktivitas tambang nikel di Kabaena telah menghancurkan ekosistem lokal secara signifikan. Hutan-hutan yang dulunya menjadi penopang kehidupan masyarakat dan habitat bagi satwa liar kini berubah menjadi lahan gundul,” jelas Daniel.

“Belum lagi kerusakan sumber air bersih memperburuk kondisi lingkungan dan kehidupan perekonomian warga. Pemerintah jangan abai terhadap masalah ini,” sambung Legislator dari Dapil Kalimantan Barat I itu.

Terdapat pula kisah pilu di balik keruhnya air laut di Pulau Kabaena di mana pada tahun 2021 seorang anak balita terjatuh. Akibat keruhnya air, proses pencarian pun terhambat dan nyawa anak tersebut tidak tertolong.

“Ini kan miris sekali. Musibah memang tidak bisa dihindari, namun proses penyelamatan masih bisa dilakukan dengan maksimal apabila tidak terhambat kondisi air yang keruh,” ungkap Daniel.

Daniel lalu menyoroti soal uji laboratorium terhadap sampel air di berbagai lokasi di Kabaena. Hasilnya menunjukkan kandungan nikel mencapai 3 mg/liter, 69 kali lipat dari ambang batas 0,05 mg/liter yang ditetapkan untuk biota laut.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.