Pergantian Tahun Masehi dan Pentingnya Menanamkan Ruh Islami
Dari Ibnu Abbas r.a berkata, ”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam suka menyamai Ahli Kitab di sebagian perkara yang tidak diperintahkan.” (HR Bukhari no. 5462).
Mungkin yang perlu dipermasalahkan adalah bagaimana cara merayakannya. Bila pergantian tahun dilalui dengan hal sia-sia tentu itu tidak sejalan dengan semangat ajaran Islam.
Jangankan pergantian tahun, pergantian hari saja Nabi mewanti-wanti untuk tetap melakukan evaluasi diri:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Nabi saw. bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah.” (HR Tirmidzi no. 2383)
Namun, bila pergantian tahun, apa pun jenis nama kalendernya, entah Hijriah, Gregorian, Sunda, Jawa, Bali, China, dan lain sebagainya, diisi dengan evaluasi diri, meresolusi ulang target-target dan harapan di tahun mendatang agar diri lebih baik lahir batin, mengajak diri lebih menuju kedewasaan spiritual, serta membaca doa awal dan akhir tahun sesuai petunjuk Nabi, tentu saja “perayaan” semacam ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Dan secara tidak langsung kita telah menanamkan ruh Islami dalam setiap “perayaan” semacam itu. @fen/sumber: mui.or.id
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!