Pemerintah Dorong Resiliensi Bencana Berbasis Kolaborasi
Pembukaan ADEXCO dan 3rd. /visi.news/ist
Prioritas kedua adalah menyelaraskan modal. Upaya ini menitikberatkan pada bagaimana pendanaan iklim, pendanaan risiko bencana, dan pendanaan pembangunan dapat dikoneksikan secara lebih baik untuk mendukung ketangguhan jangka panjang yang berorientasi pada pencegahan.
“Dan ketiga, mewujudkan resiliensi berkelanjutan. Prioritas pada komitmen global dan strategi nasional dapat diterjemahkan ke dalam aksi yang dipimpin secara lokal, dipercaya oleh masyarakat, dan mampu menghasilkan pencapaian yang terukur,” ujar Raditya.
Menurutnya, ketiga prioritas tersebut bukan sekadar konsep, melainkan berkaitan langsung dengan kemampuan kebijakan resiliensi dalam memberikan perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Ini bukanlah tantangan abstrak. Ini adalah tantangan yang menentukan apakah kebijakan resiliensi benar-benar membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat,” ujar Raditya.
GFSR ke-3 juga menjadi kesempatan untuk mendokumentasikan berbagai kemajuan yang telah dicapai, mengidentifikasi kesenjangan yang masih ada, serta menerjemahkan pengalaman selama dua dekade terakhir menjadi strategi yang dapat ditindaklanjuti untuk membangun generasi ketangguhan berikutnya.
Dari Dialog Menuju Aksi Nyata
GFSR telah berkembang menjadi forum pertukaran pembelajaran dan gagasan yang mempertemukan berbagai pihak, mulai dari tingkat lokal hingga global.
Forum global pertama menjadi fondasi awal bagi pengembangan gagasan resiliensi berkelanjutan. Forum kedua memperdalam dialog regional, sedangkan penyelenggaraan GFSR ke-3 diarahkan untuk mendorong pergeseran dari pembangunan konsep menuju pelaksanaan serta dari dialog menuju dampak yang dapat dirasakan.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena berbagai risiko yang dihadapi masyarakat tidak selalu mengenal batas wilayah maupun sektor.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!