Pemerintah Dorong Resiliensi Bencana Berbasis Kolaborasi

ED
PN
Kamis, 10 September 2026 | 07:58 WIB
Bagikan
Pemerintah Dorong Resiliensi Bencana Berbasis Kolaborasi

Pembukaan ADEXCO dan 3rd. /visi.news/ist

VISI.NEWSPemerintah Indonesia terus mendorong berbagai pihak untuk mewujudkan resiliensi berkelanjutan di tengah meningkatnya ancaman bencana, perubahan iklim, dan ketidakpastian pembangunan. Pengalaman penanganan dan pemulihan pascagempa Yogyakarta menjadi salah satu pembelajaran penting bahwa ketangguhan tidak dapat dibangun oleh satu pihak saja.

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Febrian Alphyanto Ruddyard, mengatakan resiliensi sejati lahir ketika berbagai institusi mampu bekerja secara terpadu dan saling melengkapi.

Menurutnya, kolaborasi tersebut diperlukan untuk mengubah berbagai tindakan yang sebelumnya berjalan secara terfragmentasi menjadi upaya bersama yang menghasilkan dampak lebih selaras.

Hal itu, kata Febrian, tercermin dalam proses pemulihan setelah gempa Yogyakarta. Warga, komunitas, pemerintah daerah, pemerintah pusat, hingga mitra internasional turut mengambil peran dalam proses pemulihan dan membangun kembali wilayah terdampak.

“Apa yang terjadi setelahnya sama pentingnya. Warga saling membantu, kelompok masyarakat dan pemerintah daerah merespons. Pemerintah pusat memobilisasi bantuan, dan mitra internasional berdatangan,” ujar Febrian saat membuka The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR), ADEXCO 2026, dan IEE Series Engineering Week 2026 di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Resiliensi Harus Menjadi Bagian dari Pembangunan

Febrian mengatakan tantangan pembangunan saat ini semakin kompleks karena perubahan iklim, risiko bencana, degradasi lingkungan, kerentanan ekonomi, dan pembangunan memiliki keterkaitan yang semakin kuat.

Namun, di sisi lain, institusi, mekanisme pendanaan, proses perencanaan, hingga sistem akuntabilitas masih kerap berkembang dan bekerja secara terpisah.

Karena itu, menurut Febrian, tantangan utama bukan sekadar menciptakan lebih banyak kebijakan, kerangka kerja, atau institusi baru. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana seluruh elemen tersebut dapat bekerja secara bersama-sama.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.