BKN Catat 2.722 ASN Mengundurkan Diri pada Semester I 2026 3 Aug 2026 Sembilan Korban Kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 Tiba di Kalianget 3 Aug 2026 Festival Teman Tulus Digelar Oktober 2026, Ini Harga Tiketnya 3 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp7.000 per Gram 3 Aug 2026 Bupati Jember Tegaskan Sinergi Pemkab dan Polres Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Daerah 3 Aug 2026 ATR/BPN Perkuat Sinergi Lewat Turnamen Tenis Piala Gubernur DKI Jakarta 2026 3 Aug 2026 Pemadaman Listrik di Jakarta dan Tangsel, Ini Penjelasan PLN 3 Aug 2026 Modus Dugaan Pencabulan di Simpenan Sukabumi, Korban Dijanjikan Mudah Rezeki 3 Aug 2026 Viral Dugaan Pencabulan di Simpenan Sukabumi, Polisi Tangkap Pelaku di Banten 3 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Senin 3 Agustus 2026 3 Aug 2026 BKN Catat 2.722 ASN Mengundurkan Diri pada Semester I 2026 3 Aug 2026 Sembilan Korban Kebakaran KM Mutiara Sentosa 2 Tiba di Kalianget 3 Aug 2026 Festival Teman Tulus Digelar Oktober 2026, Ini Harga Tiketnya 3 Aug 2026 Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp7.000 per Gram 3 Aug 2026 Bupati Jember Tegaskan Sinergi Pemkab dan Polres Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Daerah 3 Aug 2026 ATR/BPN Perkuat Sinergi Lewat Turnamen Tenis Piala Gubernur DKI Jakarta 2026 3 Aug 2026 Pemadaman Listrik di Jakarta dan Tangsel, Ini Penjelasan PLN 3 Aug 2026 Modus Dugaan Pencabulan di Simpenan Sukabumi, Korban Dijanjikan Mudah Rezeki 3 Aug 2026 Viral Dugaan Pencabulan di Simpenan Sukabumi, Polisi Tangkap Pelaku di Banten 3 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Senin 3 Agustus 2026 3 Aug 2026

Paradoks Bernama MACA dan Robobook

Catatan dari Festival Literasi Kota Bandung 2026 - Oleh Tendy K. Somantri

ED
PN
Penulis Penulis
Senin, 3 Agustus 2026 | 07:03 WIB
Bagikan
Paradoks Bernama MACA dan Robobook

Peran orang tua mendongeng akan segera tergantikan oleh robot. (Foto ilustrasi - Google)

Literasi memang bukan sekadar baca tulis, apalagi sekadar kegiatan seremonial. Literasi seharusnya merupakan kegiatan untuk membangun masyarakat yang cerdas, kritis, serta menumbuhkan budi pekerti dan nilai kepribadian. Dia bisa saja bergerak dalam senyap tetapi berdampak dahsyat. Dia bisa juga bergerak mengendap-endap dengan napas terengah-engah, seperti gerilyawan yang hanya berbekal belati menembus belantara. Namun, dia juga bisa menjelma sebagai perhelatan akbar serupa festival yang bertabur bintang.

Insan-insan literasi bermodal cekak biasanya terpaksa berkegiatan dengan cara bergerilya, kadang-kadang seorang diri seperti John Rambo. Sebaliknya, instansi-instansi negara atau swasta yang memiliki anggaran khusus – walaupun sudah terpotong karena efisiensi – masih bisa menyelengarakan perhelatan besar.

Sayangnya, anggaran besar dan panggung megah sering kali mengubur esensi paling mendasar dari literasi itu sendiri. Fenomena ini tampak telanjang dalam gelaran Festival Literasi Kota Bandung 2026 yang baru saja berlalu. Alih-alih menjadi ruang temu yang intim dan transformatif bagi para pemikir, festival ini justru terjebak dalam keriuhan kosmetik. Literasi dilembagakan sebatas spanduk selamat datang, panggung seremonial yang riuh, dan selebrasi visual demi memenuhi laporan pertanggungjawaban. Di balik gemerlap atraksi di panggung, jiwa dari literasi itu sendiri seolah menguap, meninggalkan cangkang kosong yang kehilangan makna.

Sebagai contoh, insiden dalam perhelatan Festival Literasi Kota Bandung 2026. Muncul ironi  ketika kepanitiaan yang mengusung jargon literasi justru gagap terhadap sejarah dan aktornya sendiri. Bagaimana mungkin sebuah festival literasi bertaraf kota besar tidak mengenali tamu-tamu penting yang mereka undang? Di antara deretan kursi panggung, duduk beberapa pegiat literasi bertaraf nasional seperti Etty R.S. dan Ferry Curtis.

Bagi dunia pustaka dan literasi Indonesia, Ferry bukan orang asing; ia telah 25 tahun lebih menjadi penggiat literasi dan penggubah lagu "Mars Perpustakaan"—sebuah karya yang setiap baitnya menjadi penyemangat para perawat ilmu di seluruh penjuru negeri. Namun, pada acara pembukaan festival ini, sosoknya tak lebih dari sekadar angka dalam daftar presensi . Bahkan, saat datang, panitia masih bertanya siapa nama dan dari lembaga mana kepada Ferry. Mungkin, nama Ferry dan tokoh-tokoh literasi lain tenggelam di bawah nama-nama pejabat yang hadir saat itu. Inilah sebuah kebutaan realitas!

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.