Paradoks Bernama MACA dan Robobook
Catatan dari Festival Literasi Kota Bandung 2026 - Oleh Tendy K. Somantri
Peran orang tua mendongeng akan segera tergantikan oleh robot. (Foto ilustrasi - Google)
Fenomena itu langsung terasa membayangi ketika Pemkot Bandung meluncurkan produk inovasi digital dalam festival ini: Program MACA (Membaca Cerdas). Di atas panggung, sistem Titik Baca berbasis QR Code ini dipuji-puji sebagai ekosistem literasi modern. Namun di dunia nyata, ia justru menciptakan dinding pembatas baru yang memisahkan pembaca dan penulis. Tampaknya, tak akan ada lagi acara jumpa penulis atau bedah buku dengan momen sakral penandatangan buku oleh penulisnya. Akibatnya, sangat boleh jadi, pembaca tidak mengenali penulis buku yang dibacanya padahal sang penulis ada di hadapannya, seperti insiden kehadiran Ferry Curtis saat Festival Literasi Kota Bandung 2026. Ferry, warga Kota Bandung penggubah “Mars Perpustakaan”, ternyata tidak dikenali. Padahal karyanya dinyanyikan pada pembukaan hajatnya Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung itu.
Selain menjadi dinding antara pembaca dan penulis, platform ini pun bisa menjadi dinding si kaya dan si miskin. Walaupun teknologi HP sudah sangat lumrah, mengakses MACA tidak semudah membalik halaman buku. Warga dipaksa memiliki ponsel pintar berspesifikasi tinggi yang memiliki pemindai bawaan. Warga juga harus menguras kuota untuk mengunduh aplikasi pemindai pihak ketiga terlebih dahulu—sebuah prasyarat teknis yang sama sekali tidak ramah bagi masyarakat awam. Muncul kekhawatiran tentang minat warga memasang aplikasi MACA di HP-nya. Apakah mereka mau bersusah-susah mengunduh aplikasi untuk membaca buku? Ingat, saingan MACA di HP masyarakat adalah dracin dan drakor!
Kalaupun muncul minat yang besar untuk mengunduh MACA dan membaca buku-buku di dalamnya, kekhawatiran lain muncul. Program ini justru membawa kecemasan baru tentang penyempitan makna literasi itu sendiri. Dengan nama yang secara harafiah berarti "membaca", fokus pemerintah tampaknya kembali menyusut ke titik nol: sekadar aktivitas konsumsi teks. Padahal, membaca hanyalah hulu. Literasi yang substantif harus bergerak ke hilir, melahirkan program lanjutan pasca-baca yang membangun nalar kritis masyarakat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!