Paradoks Bernama MACA dan Robobook
Catatan dari Festival Literasi Kota Bandung 2026 - Oleh Tendy K. Somantri
Peran orang tua mendongeng akan segera tergantikan oleh robot. (Foto ilustrasi - Google)
Kekhawatiran terbesar kita adalah ketika digitalisasi ini justru berpotensi menenggelamkan tradisi sosial literasi yang selama ini dirawat oleh komunitas akar rumput. Membaca lewat aplikasi di layar ponsel adalah aktivitas individual yang sunyi dan soliter. Jika program MACA ini berhasil mencetak angka unduhan yang tinggi, ia rawan melahirkan paradoks baru: munculnya manusia-manusia soliter yang asyik dengan gawainya masing-masing, sementara ruang-ruang dialektika komunal perlahan mati. Kita terancam kehilangan tradisi bersemuka seperti bedah buku, diskusi sastra, atau urun rembuk gagasan yang membutuhkan kehangatan interaksi manusia. Ketika indikator keberhasilan literasi pemerintah digeser ke dalam metrik digital—seperti berapa kali kode dipindai—anggaran untuk merawat ruang fisik yang hidup rawan dipangkas karena dianggap kuno.
Belum lagi rencana lanjutan untuk menghadirkan RoboBook, sebuah robot storytelling mekanis yang disiapkan untuk mendongeng kepada anak-anak pada Hari Jadi Kota Bandung mendatang. Kehadiran inovasi robotik ini memicu pertanyaan filosofis yang menggelitik: apakah kita benar-benar harus mendelegasikan kehangatan sebuah dongeng, yang sejatinya kaya akan kontak mata dan transfer emosi antar-manusia, kepada sebuah mesin pintar?
Tentu saja, ini bukan masalah setuju atau tak setuju dengan pemanfaatan teknologi di ruang literasi. Pada prinsipnya, teknologi adalah media sekaligus objek yang mau tidak mau berkelindan dalam gerak roda kegiatan literasi. Namun, kecemasan bahwa pemanfaatan teknologi akan menjadi sebuah paradoks perlu kita waspadai. Jangan sampai terjadi kisah tentang azan yang dilantunkan melalui MP3 atau MP4, sedangkan sang bilal pulas mendengkur.
Seharusnya, kecemasan ini bisa terjawab dalam acara serupa festival literasi yang sejatinya merupakan "lebaran bagi para penggerak literasi". Festival itu seharusnya menjadi pemantik bagi penyediaan ruang-ruang sosial secara bersemuka sebagai tindak lanjut jangka panjangnya. Festival itu seharusnya bisa membuka ruang komunal tempat para gerilyawan literasi bertemu dengan para pemangku kebijakan. Dari interaksi tatap muka yang intim seperti inilah keakraban dan kekerabatan organik akan tumbuh, yang kelak melahirkan rahim bagi program kolaboratif nyata di masa depan. Kegiatan literasi pun tak terhenti hanya sampai MACA.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!