Para Wali, 'Ikon Bandung' itu Berkiblat Ajaran Tarekatnya ke Cirebon
Dan kesembronoan itu, dengan mengambil peta jalan yang baru mereka kenali, jalan tarekat asing, bukan dari tarekat karuhunnya yang dari Cirebon...
Awalnya terasa memuaskan. Mereka percaya diri mengambil tarekat asing itu.
Hingga mereka merasa beruntung dan mau mengambil jalan melingkar-lingkar, berputar-putar, yang bagi mereka anak turunan aulia itu, ini seperti jalan yang asik, seperti jalan mulus yang enak di lalui.
Karena hanya menjalankan ritual ringan yang enteng, jauh dari apa yang sudah dijalankan para aulia jawa, seperti sunan kalijaga, yang bertapa di pingir sungai, sampai ia berlumut dan sulit dikata itu manusia.
Yaa mau enak, Tak mau meurih... Itu menyebabkan anak turunanya yang ia cintai, terjebak, dan mereka hanya bisa berharap, bisa seperti karuhunnya memiliki karomah dan Allah mempercayainya jadi wali.
Sungguh, cara enteng, tak mengambil pewarisan ajaran buyutnya itu, yang jadi penyebab ia tak pernah akan sampai ke tujuannya, untuk bisa menjadi wali.
Ia tak akan pernah mencium kewalian, karena ia sendiri, tak mau menapaki jalan kewalian seperti jalan-jalan yang dilalui para kakek moyangnya, yang sudah membukakan jalan bagi turunannya.
Beda jalan, beda tujuan ! Para turunan yang sudah berbeda jalan, tak lagi menempuh jejak langkah karuhunnya dalam menapaki tangga kewalian, yang sebetulnya telah jelas, dan telah terang benderang, seterang cahaya matahari, karena saking silaunya, menyebabkan mereka buta hingga terperosok jatuh saking tidak taunya cara melihat kebenaran.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!