Para Wali, 'Ikon Bandung' itu Berkiblat Ajaran Tarekatnya ke Cirebon
Hingga bahkan mereka para keturunan Aulia ini, akhirnya kembali menjadi manusia biasa, jauh dari kefahaman pada ilmu agama, tidak menjadi ahli ilmu, yang ada malah ahli menunggu sedekah para penziarah.
Yaa, itu bisa jadi karena faktor kurangnya semangat, kurangnya faktor kesadaran, tidak adanya visi masa depan, dan tidak adanya kemauan yang besar untuk mau," merih," terlebih dahulu.
Jadi persisnya, jika di dunia persepakbolaan, mereka keturunan para Wali ini, sudah terdegradasi dari divisi utama turun kelas ke divisi paling bawah.
Yang pada akhirnya, mereka malah rela menjadi Muhibbin-muhibbin, para kiai atau habaib.
Dan itu terjadi, karena mereka tidak mengenali lagi potensi dirinya, dan potensi karuhunnya yang sudah seharusnya menjadi contoh serta acuan segenap anak turunannya.
Mengapa bisa seperti itu ? Ya, itu karena sudah terlampau menjauh dari amanah kepewarisan ilmu, hingga akhirnya, kapoekan, atau kegelapan, tidak bisa melihat, sebab ia tidak teguh memegang amanah pewarisan ilmu para karuhunnya.
Mengapa ? Mereka para keturunannya, kini telah meninggalkan warisan ke arifan lokal, dan warisan kiblat ajaran moyangnya...yang berkiblat ilmu Thariqahnya ke Cirebon, ke eyangnya Sunan Gunung Djati, ke ajaran Prabu Siliwangi, "silih asah, asuh silih wangikeun" dan ajaran buyutnya Nyi Mas Subang Larang, seperti apa yang di ajarkan Syeh Quro, dan syeh Datul Kahfi.
Yaa, para karuhun dari mulai mama eyang Mahmud, mama Eyang Cibaduyut, yang juga diikuti oleh murid-muridnya, santri-santrinya yang melanjutkan arah kiblat ajarannya ke Cirebon, ke Sunan Gunung Djati, mereka terwarisi keberkahan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!