Para Wali, 'Ikon Bandung' itu Berkiblat Ajaran Tarekatnya ke Cirebon
"Coba lihat oleh kalian, baru sampe ke eyang Adipati Kertamanah saja, barokah ke walian sudah kalian dapatkan, apalagi kalo benar bisa sampai ke Cirebon."
Yaa, bisa jadi itu pesan yang kita artikan dan jabarkan secara harfiah, itulah maksud sebenarnya yang ingin diungkapkan...kiblat berthoriqahnya harus ke Cirebon.
Dalam hal ini, para keturunan wali yang sekarang ada itu, memiliki keterbatasan dalam hal membaca petanda, sign system karuhunnya.
Hingga yang terjadi akhirnya, pertanda tersebut atau pesannya tak bisa dibaca, hingga hilanglah jejak, hilanglah arah, tidak ada kompas lagi buat para anak turunannya.
Pe-er itu menjadi pesan yang disamarkan, bahasa kiasan, penuh metafora, hal ini agar, itu hanya bisa di tangkap oleh anak turunannya yang cerdas, yang memiliki genetika unggul, bisa menangkap pesan. Dan cucu atau cicitnya tersebut yang dapat membaca pertanda, adalah seorang yang benar-benar paham, dan tidak sembarangan kualitas keturunannya.
Sebab hal ini merupakan isyarat, tidak semua anak turunan itu mewarisi semangat karuhunnya, yang siap digojlok, dengan tempaan Qonaah, kesabaran, dan mau berperih-perih di awal perjalanan kesufiannya.
Yaa.. hanya anak turunan yang cerdaslah yang bisa menangkap pesan tersembunyinya itu, dan dia siap merih, berperih diri, dengan menjauhi popularitas dadakan, sambil mengandalkan nasab, yang sekarang banyak dipakai untuk mempengaruhi umat.
Padahal mereka yang yang seperti itu, bak tong kosong nyaring bunyinya, tidak ada manfaat keilmuan yang berarti buat umat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!