Para Wali, 'Ikon Bandung' itu Berkiblat Ajaran Tarekatnya ke Cirebon
Hingga yang ada... Seperti yang penulis banyak saksikan...
Mereka anak turunannya, hanya bisa menjadi pendongeng, hanya cuma bisa menceritakan ke istimewaan kakek buyutnya, bahwa karuhun, moyang mereka dahulu, punya karomah ini dan itu, yang nyatanya, dia, anak turunannya, tidak bisa mencapai maqom mulia seperti kakek moyangnya tersebut.
Bahkan mirisnya lagi... Ini penulis saksikan sendiri, suatu hal yang nyata dan kongkrit, dimana ada sebagian anak turunan para tokoh mulia, aulianya Bandung, mereka seakan tidak mau berberat-berat jadi santri, mau mesantren, atau belajar mendalami ilmu agama hingga mumpuni, sehingga ke depan minimalnya, mereka bisa jadi ustad, atau bagus-bagusnya bisa jadi kiai nantinya.
Yang terjadi, dan penulis juga merasa miris, anak seketurunan aulia itu, malah mau-maunya menjadi penjaga pintu makam karuhunnya, mengharap sedekah dari pengunjung, padahal bukan itu yang di mau oleh kakek moyang para karuhunnya.
Doa mereka terus melangit saat masih hidup, menginginkan anak putunya bisa jadi penerus penegak syiar agama.
Yaa, sungguh, mereka para kakek moyang kita, sangat berharap anak incunya jadi manusia bermanfaat, bukan memanfaatkan para penziarah yang sudah datang dari jauh-jauh mendoakan kakek moyangnya, dan hanya berharap para penziarah mengisi keropak amalnya.
Mengapa demikian ?
Sejauh pengamatan penulis... Mengapa fenomena ini terjadi ?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!