Para Wali, 'Ikon Bandung' itu Berkiblat Ajaran Tarekatnya ke Cirebon
Hasilnya para santri itu bisa mengapai maqom kewalian, jadi penerus para Aulia (Wali) dan akhirnya, mampu menjadi paku bumi di seluruh daerah yang mereka tinggali.
Eyang Mahmud selalu mengajak anak dan para santrinya untuk mengingat ke istimewaan Cirebon, mengingat keberkahan nyata dari Cirebon, hingga ada kecap, atau ada kata, "Hayu Urang ka Keraton Cirebon, ka Sunan Gunung Djati !"
Dan ketika ajakan itu dituruti para anak, incu dan santrinya, ternyata mereka diajak ke maqbaroh eyang Adipati Kertamanah di Cikabuyutan, Pasirjambu, Kabupaten Bandung
Lho ko bukan ke Cirebon langsung, ke Makamnya Sunan Gunung Djatinya yaa ?
Itulah pe-er untuk anak cucu, seluruh keturunan para wali Aulia Pasundan, yang hidup di tatar sunda saat ini, khususnya yang ada di daerah wewengkon Bandung, Purwakarta, Cianjur, Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya.
Yang jika itu diterjemahkan, pe-er dari karuhun ini, bisa jadi berarti, ... "Hei anak incu putu kaula, yeuh...perjalanan bersuluk, bertharekat, ngalakuken ihtiar bathin, spiritual teh, nya kudu apal berkiblatna, kiblat maraneh teh kudu ka eyang maneh, anu di Cirebon, nyaeta ka eyang Sunan Gunung Djati, lain ka anu sejen."
"Yeuh tempo ku araranjen, kakara sampe ka Eyang Adipati Kertamanah bae, barokah kawalian geus silaing beunangkeun, komo dei mun bener bisa sampe ka Cirebon mah !"
Atau terjemahannya, "Hei anak cucu, cicit ku, nih..perjalanan bersuluk, bertarekat, melakukan ikhtiar bathin, spiritual itu harus hafal kiblatnya, kiblat kalian itu harus ke eyang Sunan Gunung Djati, bukan me yang lain."
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!