Nur Husin, Mengabdi di "Kampung Kristen"
Apa yang dirasakan umumnya penduduk, juga dialami Husin, bahkan mungkin lebih memilukan. Penghasilannya sebagai penjual es hanya cukup untuk kebutuhan dasar istri dan anak perempuannya. Itu pun setelah berbagai siasat pemenuhan dilakukan.
“Itulah kenapa saya bersusah payah mencari kayu bakar di hutan. Biar elpijinya irit. Pendapatan pas-pasan, jadi mesti pintar mengondisikan,” tuturnya.
Di samping bertangung jawab menyediakan uang belanja keluarga, Husin seringkali juga harus menanggung sendiri kebutuhan santri-santri TPQ. Semangat Husin untuk menetap dan mengajar di Kwangenrejo sempat oleng. Karena tidak kerasan, Husin membawa anak dan istrinya boyong ke kampung halaman orang tuanya di Kepohbaru.
Namun di luar dugaan, belum lama ia pindah rombongan satu mobil warga Muslim Kwangenrejo datang ke Kepohbaru dan memintanya kembali. “Kami butuh Sampean. Siapa lagi yang mengajar ngaji kalau bukan Sampean?”
Bagi warga Kwangenrejo Husin adalah tokoh, oase bagi anak-anak muslim yang tak mengenyam pendidikan agama selama ini. Husin malu dengan anggapan seperti itu. Menurutnya, dirinya hanya lulusan pesantren kecil di kampungnya. Memang bertahun-tahun ia pulang-pergi ikut ngaji di Pesantren Langitan, salah satu pesantren terpandang di Jawa Timur. Tapi itu ia lakukan hanya tiap hari Ahad. Lagi pula mengajar ngaji memang kebiasaannya sejak usia belasan tahun. Dia terlahir di lingkungan keluarga pengajar ngaji.
Suasana sepi Mushala Darus Salam adalah kelaziman di desa miskin ini. Padahal ia satu satunya pusat tempat ibadah umat Islam di Kwangenrejo. Sejak didirikan pada tahun 1982, jamaah hingga memenuhi empat shaf saja dapat dihitung dengan jari. Fauzan, sang pendiri mushala, tak bisa berbuat banyak.
“Saya ini tho mas. Selain pendatang, saya ini tidak pintar ngaji. Entah, masyarakat kok memanggil saya kiai,” tuturnya.
Kiai Fauzan sehari-hari sebatas menjadi imam di mushala rintisannya. Bacaannya tidak lancar dan kental dengan aksen Jawa. Sebagian orang percaya, Kiai Fauzan menghafal surat-surat pendek dari huruf Arab yang dilatinkan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!