Nur Husin, Mengabdi di "Kampung Kristen"
Meski berdarah Bojonegoro, Husin bukan penduduk asli Kwangenrejo. Rumah asalnya ada di Desa Karangan, Kecamatan Kepohbaru, sekitar 40 kilomerter dari tempat tinggalnya kini. Ia mulai menetap di Kwangenrejo pada 2011 setelah menikah dengan perempuan teman dari istri sahabatnya semasa di pesantren. Tahun pertama tak ada yang ia lakukan kecuali beradaptasi. Hingga akhirnya ia “kepergok” pintar mengaji dan mulai merintis taman pendidikan al-Qur’an atau TPQ.
Perjuangan Husin tidak gampang. Ia mendirikan TPQ ketika ia sendiri belum bisa sepenuhnya mandiri. Untuk urusan tempat tinggal, ia ikut bersama mertuanya. Husin juga terpaksa melakoni pekerjaan kasar untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Ia tak mungkin jadi pegawai karena tidak memiliki ijazah SD. Pria kelahiran 20 Juni 1984 ini diminta ayahnya pindah ke pesantren saat ia duduk di kelas lima madrasah ibtidaiyah.
Bumi Kwangenrejo juga tak memberinya banyak harapan. Permukaan tanahnya gersang. Hasil sawah kurang menjanjikan. Hutan milik Perhutani di dekatnya hanya menyediakan kayu bakar atau tanah tegalan yang tak seberapa. Maklumlah bila hampir seluruh penduduk di sana hidup dalam kemiskinan.
“Hanya ada dua mata pencaharian utama warga Kwangenrejo, petani atau pembalak liar,” ujar Suharjo. Kedua pilihan ini sama-sama sulit. Dalam rezim pupuk mahal dan bahan pangan impor, petani tetap akan sukar hidup sejahtera. Sedangkan untuk menjadi pencuri kayu di samping harus memiliki tenaga fisik ekstra, risiko pamungkasnya adalah penjara.
Pernah pada Mei 2009 selepas shubuh, satu peleton polisi bersenjata lengkap mengepung Kwangenrejo dalam sebuah operasi penggrebekan. Petugas Polwil Bojonegoro berhasil mengamankan dua truk berisi 350 gelondong kayu mahoni hasil pembalakan liar. Hampir seluruh pria dewasa kabur. Rupanya polisi telah mengidentifikasi Kwangenrejo sebagai pusat peredaran kayu ilegal, mereka menjulukinya “Kampung Pencuri Kayu”.
“Zaman krisis moneter dan reformasi memang ramai sekali aksi pembalakan liar. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” kata Sumidi, pensiunan polisi hutan yang masih tinggal di Kwangenrejo sejak 1988.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!