Muktamar NU ke-35 dan Mimpi Jadi Pusat Peradaban Islam
Namun, perjalanan tersebut membutuhkan konsolidasi internal.
NU juga dinilai perlu menjaga jarak yang sehat dengan politik praktis. Politik kebangsaan tetap memiliki arti penting, tetapi organisasi keagamaan sebesar NU memiliki tanggung jawab yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar memenangkan kontestasi kekuasaan.
Jika energi organisasi terlalu banyak terserap dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis, energi untuk mengurus umat dan membangun peradaban dikhawatirkan ikut berkurang.
Karena itu, dinamika internal menjelang Muktamar ke-35 seharusnya dapat diarahkan menjadi momentum rekonsiliasi.
Muktamar tidak semestinya berhenti sebagai ruang kompetisi antarkelompok. Forum tersebut perlu menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pandangan dan menyusun agenda bersama mengenai masa depan NU.
Hal yang diperebutkan seharusnya bukan semata-mata posisi dalam struktur organisasi, melainkan gagasan terbaik mengenai arah NU ke depan.
Yang dibangun juga bukan hanya struktur kelembagaan, tetapi postur peradaban yang ingin diwujudkan.
NU dinilai memiliki modal sosial yang sangat besar untuk menjalankan agenda tersebut. Tradisi musyawarah, kedalaman keilmuan, kearifan dalam bersikap, keluhuran budi, jaringan pesantren, serta akar rumput yang kuat merupakan kekuatan yang tidak dimiliki semua organisasi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!