Muktamar NU ke-35 dan Mimpi Jadi Pusat Peradaban Islam

ED
PN
Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:47 WIB
Bagikan
Muktamar NU ke-35 dan Mimpi Jadi Pusat Peradaban Islam

VISI.NEWS - Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat peradaban Islam dunia. Selain ditopang jumlah penduduk Muslim yang besar, Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam mempertemukan nilai agama, kebangsaan, demokrasi, dan kebudayaan dalam kehidupan yang relatif damai.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA dalam tulisannya yang diterbitkan pada Rabu (26/8/2026). Menurut dia, karakter Islam Indonesia memiliki kekhasan dibandingkan corak Islam di berbagai belahan dunia lainnya.

Islam di Indonesia tumbuh melalui tradisi keilmuan, pesantren, kearifan lokal, akhlak, serta pengalaman hidup berdampingan dalam keberagaman. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar besar bagi umat Islam dunia, tetapi juga membuka peluang bagi lahirnya gagasan baru mengenai peradaban Islam.

Dalam konteks tersebut, Nahdlatul Ulama (NU) dinilai memiliki posisi strategis.

NU selama ini menjadi salah satu kekuatan sosial yang ikut membentuk wajah Indonesia. Tradisi pesantren, peran ulama, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta komitmen terhadap kehidupan kebangsaan menjadi modal yang dapat dikembangkan untuk memainkan peran lebih luas.

Karena itu, Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026 dinilai tidak semestinya hanya dipandang sebagai agenda pergantian kepemimpinan organisasi.

Muktamar tersebut juga tidak cukup jika hanya dimaknai sebagai pemenuhan amanat organisasi sebagaimana diatur dalam AD/ART. Lebih dari itu, forum lima tahunan tersebut harus menjadi momentum untuk menentukan arah NU memasuki abad keduanya.

Tema Muktamar ke-35, "Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa", dinilai memiliki makna strategis. Setidaknya terdapat tiga kata kunci yang menjadi fondasi tema tersebut, yakni marwah, khidmat, dan maslahat.

Menjaga marwah berarti mempertahankan kehormatan. Namun, kehormatan yang dimaksud bukan sekadar nama baik organisasi, melainkan juga kehormatan tradisi keilmuan, akhlak, ulama, pesantren, serta nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi NU.

Marwah menjadi salah satu pembeda NU dengan organisasi kemasyarakatan keagamaan lainnya.

Menurut Nasaruddin, menjaga marwah tidak dapat dilakukan hanya dengan membanggakan sejarah panjang organisasi. Marwah harus diwujudkan melalui keteladanan, menjaga tradisi, serta konsisten memperjuangkan cita-cita organisasi.

Organisasi yang besar, menurut dia, juga harus semakin matang dalam mengelola perbedaan. Kompetisi internal harus dijalankan secara santun dan tidak boleh menyeret organisasi terlalu jauh ke dalam kepentingan yang berpotensi mengurangi kehormatannya.

Sementara itu, frasa "memperkaya khidmat" menunjukkan bahwa pengabdian NU tidak boleh berhenti pada pola-pola lama.

Khidmat harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Peran NU dapat bergerak dari pesantren menuju pendidikan modern, dari dakwah konvensional ke ruang digital, dari pemberdayaan masyarakat menuju penguatan ekonomi umat, serta dari persoalan lokal menuju persoalan kemanusiaan global.

Adapun "kemaslahatan bangsa" menjadi orientasi akhir dari seluruh khidmat tersebut.

Dengan demikian, tema Muktamar ke-35 dapat dibaca sebagai sebuah rangkaian. Marwah menjadi fondasi, khidmat menjadi jalan, sedangkan maslahat menjadi tujuan.

Ketiga hal tersebut juga memiliki hubungan erat dengan cita-cita menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban Islam dunia.

Sebab, pusat peradaban tidak lahir hanya karena jumlah umat yang besar. Sebuah pusat peradaban membutuhkan kemampuan menghadirkan nilai, ilmu pengetahuan, gagasan, inovasi, dan kemaslahatan yang manfaatnya dapat dirasakan melampaui batas kelompok maupun negara.

Pertanyaan penting yang perlu dijawab melalui Muktamar ke-35 adalah mengenai arah NU pada masa mendatang.

Jika Indonesia memiliki peluang menjadi epicentrum peradaban Islam dunia, NU dinilai harus mampu mengambil peran sebagai salah satu lokomotifnya.

Peran tersebut tidak cukup diwujudkan dengan memperbesar struktur organisasi. NU perlu memperbesar gagasan, memperluas manfaat, serta meningkatkan kontribusinya dalam menjawab persoalan masyarakat.

Muktamar karena itu diharapkan menjadi arena pertarungan gagasan tentang masa depan, bukan sekadar kompetisi memperebutkan posisi kepemimpinan.

NU perlu melahirkan lebih banyak pemikiran mengenai hubungan Islam dengan masa depan, teknologi dan etika, lingkungan dan ekoteologi, ekonomi umat berbasis keadilan, pendidikan humanis, perdamaian dunia, kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang beretika, hingga isu kemanusiaan.

Gagasan tersebut menjadi penting karena dunia sedang mengalami perubahan yang sangat cepat.

Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan yang semakin terbuka. Batas geografis semakin tidak berarti karena interaksi dapat berlangsung melalui teknologi digital. Sumber pengetahuan juga semakin melimpah dan dapat diakses dengan mudah.

Dalam situasi tersebut, generasi muda membutuhkan agama yang tetap memiliki akar kuat pada tradisi, tetapi sekaligus mampu menjawab persoalan masa depan.

Dorongan agar NU semakin relevan dengan transformasi global juga muncul dari kalangan muda NU sendiri. Tantangan organisasi bukan hanya mempertahankan turats atau khazanah keilmuan Islam klasik, tetapi juga bagaimana menghidupkan dan mengaktualisasikan turats untuk menjawab kebutuhan zaman.

Karena itu, memasuki abad kedua, ukuran keberhasilan NU tidak semata-mata dilihat dari bertambahnya jumlah lembaga, pesantren, sekolah, perguruan tinggi, maupun unit organisasi.

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh NU mampu memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan kemanusiaan dan kebutuhan masyarakat.

Di titik tersebut, NU dapat bergerak dari pendekatan "organization oriented" menuju "civilization oriented".

Artinya, NU tidak hanya membangun organisasi yang kuat secara kelembagaan, tetapi juga membangun kekuatan gagasan yang mampu memberikan pengaruh lebih luas.

NU dapat berkembang dari kekuatan sosial-keagamaan menjadi kekuatan peradaban dengan berbagai keunggulan di bidang ilmu, pendidikan, ekonomi, teknologi, kemanusiaan, dan perdamaian.

Namun, perjalanan tersebut membutuhkan konsolidasi internal.

NU juga dinilai perlu menjaga jarak yang sehat dengan politik praktis. Politik kebangsaan tetap memiliki arti penting, tetapi organisasi keagamaan sebesar NU memiliki tanggung jawab yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar memenangkan kontestasi kekuasaan.

Jika energi organisasi terlalu banyak terserap dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis, energi untuk mengurus umat dan membangun peradaban dikhawatirkan ikut berkurang.

Karena itu, dinamika internal menjelang Muktamar ke-35 seharusnya dapat diarahkan menjadi momentum rekonsiliasi.

Muktamar tidak semestinya berhenti sebagai ruang kompetisi antarkelompok. Forum tersebut perlu menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pandangan dan menyusun agenda bersama mengenai masa depan NU.

Hal yang diperebutkan seharusnya bukan semata-mata posisi dalam struktur organisasi, melainkan gagasan terbaik mengenai arah NU ke depan.

Yang dibangun juga bukan hanya struktur kelembagaan, tetapi postur peradaban yang ingin diwujudkan.

NU dinilai memiliki modal sosial yang sangat besar untuk menjalankan agenda tersebut. Tradisi musyawarah, kedalaman keilmuan, kearifan dalam bersikap, keluhuran budi, jaringan pesantren, serta akar rumput yang kuat merupakan kekuatan yang tidak dimiliki semua organisasi.

Tantangannya adalah bagaimana seluruh kekuatan tersebut disatukan dalam satu visi besar.

Visi tersebut tidak lagi berhenti pada gagasan "NU untuk Indonesia", tetapi dapat diperluas menjadi "NU dari Indonesia untuk dunia".

Jika NU mampu menjaga marwah, memperkaya khidmat, dan memperluas kemaslahatan, maka organisasi tersebut bukan hanya sedang mempersiapkan masa depannya sendiri.

NU juga dapat ikut memperkuat fondasi lahirnya peradaban Islam Indonesia yang memiliki daya tawar di tingkat global.

Pada akhirnya, hubungan antara Muktamar NU ke-35 dan cita-cita Indonesia menjadi epicentrum peradaban Islam terletak pada kemampuan menyatukan modal bangsa dengan kekuatan organisasi.

Indonesia memiliki peluang besar. NU juga memiliki modal sosial dan sejarah yang kuat.

Muktamar ke-35 menjadi momentum untuk menyatukan keduanya dalam agenda besar: menjadikan kekuatan Islam Indonesia tidak hanya besar secara kuantitas, tetapi juga unggul dalam kualitas, gagasan, keteladanan, ilmu pengetahuan, dan kemaslahatan.

Cita-cita tersebut tidak dapat dibangun dengan nostalgia terhadap kejayaan masa lalu. Diperlukan keberanian membaca perubahan zaman, menjaga marwah, memperkaya khidmat, melahirkan gagasan baru, serta menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan dunia.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.