Muktamar NU ke-35 dan Mimpi Jadi Pusat Peradaban Islam
Generasi muda saat ini hidup dalam lingkungan yang semakin terbuka. Batas geografis semakin tidak berarti karena interaksi dapat berlangsung melalui teknologi digital. Sumber pengetahuan juga semakin melimpah dan dapat diakses dengan mudah.
Dalam situasi tersebut, generasi muda membutuhkan agama yang tetap memiliki akar kuat pada tradisi, tetapi sekaligus mampu menjawab persoalan masa depan.
Dorongan agar NU semakin relevan dengan transformasi global juga muncul dari kalangan muda NU sendiri. Tantangan organisasi bukan hanya mempertahankan turats atau khazanah keilmuan Islam klasik, tetapi juga bagaimana menghidupkan dan mengaktualisasikan turats untuk menjawab kebutuhan zaman.
Karena itu, memasuki abad kedua, ukuran keberhasilan NU tidak semata-mata dilihat dari bertambahnya jumlah lembaga, pesantren, sekolah, perguruan tinggi, maupun unit organisasi.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh NU mampu memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan kemanusiaan dan kebutuhan masyarakat.
Di titik tersebut, NU dapat bergerak dari pendekatan "organization oriented" menuju "civilization oriented".
Artinya, NU tidak hanya membangun organisasi yang kuat secara kelembagaan, tetapi juga membangun kekuatan gagasan yang mampu memberikan pengaruh lebih luas.
NU dapat berkembang dari kekuatan sosial-keagamaan menjadi kekuatan peradaban dengan berbagai keunggulan di bidang ilmu, pendidikan, ekonomi, teknologi, kemanusiaan, dan perdamaian.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!