Muktamar NU ke-35 dan Mimpi Jadi Pusat Peradaban Islam

ED
PN
Kamis, 27 Agustus 2026 | 16:47 WIB
Bagikan
Muktamar NU ke-35 dan Mimpi Jadi Pusat Peradaban Islam

Menjaga marwah berarti mempertahankan kehormatan. Namun, kehormatan yang dimaksud bukan sekadar nama baik organisasi, melainkan juga kehormatan tradisi keilmuan, akhlak, ulama, pesantren, serta nilai-nilai yang selama ini menjadi fondasi NU.

Marwah menjadi salah satu pembeda NU dengan organisasi kemasyarakatan keagamaan lainnya.

Menurut Nasaruddin, menjaga marwah tidak dapat dilakukan hanya dengan membanggakan sejarah panjang organisasi. Marwah harus diwujudkan melalui keteladanan, menjaga tradisi, serta konsisten memperjuangkan cita-cita organisasi.

Organisasi yang besar, menurut dia, juga harus semakin matang dalam mengelola perbedaan. Kompetisi internal harus dijalankan secara santun dan tidak boleh menyeret organisasi terlalu jauh ke dalam kepentingan yang berpotensi mengurangi kehormatannya.

Sementara itu, frasa "memperkaya khidmat" menunjukkan bahwa pengabdian NU tidak boleh berhenti pada pola-pola lama.

Khidmat harus terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Peran NU dapat bergerak dari pesantren menuju pendidikan modern, dari dakwah konvensional ke ruang digital, dari pemberdayaan masyarakat menuju penguatan ekonomi umat, serta dari persoalan lokal menuju persoalan kemanusiaan global.

Adapun "kemaslahatan bangsa" menjadi orientasi akhir dari seluruh khidmat tersebut.

Dengan demikian, tema Muktamar ke-35 dapat dibaca sebagai sebuah rangkaian. Marwah menjadi fondasi, khidmat menjadi jalan, sedangkan maslahat menjadi tujuan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.