Menikmati Karya 27 Perupa dalam Pameran "Aesthetic Defense Mechanism" di Galeri Nyoman Nuarta
ED
Editor
M Purnama Alam
Jumat, 26 Mei 2023 | 04:17 WIB
Walaupun akses ke ruang maya bisa sangat menyebar luas (viral) serta terhitung akurat jumlah kunjungannya. Tetapi kegiatan selama pembatasan fisik itu setidaknya sangat berarti untuk para praktisi seni, mereka masih bisa terus berkarya dan melanjutkan hidup. Beberapa artikel, yang pernah saya baca menyimpulkan bahwa, kegiatan-kegiatan tersebut niscaya sangat positif terutama untuk memberikan optimisme, menjaga “api” kehidupan tetap “menyala” di tengah ketidak-pastian kehidupan di tengah pandemi, terutama dalam dunia kesenian.
Sepanjang penulis menggeluti maupun mempelajari sejarah dunia seni rupa baik di Indonesia maupun internasional, praktek seni mempunyai daya tahan dan juang dalam menghadapi berbagai angin perubahan, apakah itu perubahan zaman atau paradigma, perubahan politik, sosial, ekonomi dan lainnya. Begitupun dengan adanya wabah global.
Kemampuan para praktisi dalam menghadapi berbagai perubahan ini yang saya kira yang harus diketahui masyarakat luas. Kegairahan para seniman untuk terus-menerus
berkarya hingga akhir hayatnya tidak bisa dirumuskan ke dalam suatu teori-teori yang baku, “api” kehidupan itu selalu hadir didalam tubuh setiap seniman, ia sudah seperti oksigen bagi diri seniman. Walaupun mereka akhirnya tubuh mati jua, tetapi karya-karyanya tetap terus hidup. Contohlah Vincent Van Gogh mengakhiri hidupnya dengan cara tragis dengan kesendirian, tetapi lukisan-lukisannya mampu memberikan makna bagi kehidupan saat ini. Atau banyak karya dan seniman yang semasa hidup hampir terlupakan atau sengaja dilupakan, pada akhirnya karya-karya mereka bisa berbicara kepada manusia di zaman sesudahnya.
Dengan perkembangan mutakhir berbagai ilmu-ilmu sejarah seni, filsafat, sosial, maupun perkembangan dalam lembaga-lembaga seni seperti museum dan penelitian arsip-arsip.
Pada pameran di NuArt ini karya-karya yang ditampilkan berasal dari Bandung, Yogyakarta, Jakarta dan Bali, menunjukan corak yang begitu beragam. Mulai dari realis, surreal hingga abstraksi. Representasional maupun non-representasional. Serta, berbagai teknis penggarapan lukisan.Hal ini menunjukan keberagaman eksplorasi maupun kemampuan artistik para seniman peserta, tetapi bisa juga disebabkan keterbukaan kuratorial yang disodorkan kepada para seniman.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!