Menikmati Karya 27 Perupa dalam Pameran "Aesthetic Defense Mechanism" di Galeri Nyoman Nuarta
ED
Editor
M Purnama Alam
Jumat, 26 Mei 2023 | 04:17 WIB
Keenam, kompleksitas keadaan hidup seringkali dinyatakan dalam ungkapan simbolik, baik dengan bentuk simbol-simbol yang bersifat umum maupun yang berkonotasi subjektif dan personal. Ekspresi karya-karya seperti:
“Nusantara Jaya (Wirid Visual)” (Bambang Heras), “Hipokrit” (Tisna Sanjaya), “Ode to The Survivors” (Diyanto), “My Universe” (Fitra Jaya), atau “Lepas Bayang” (Gusmen Heriadi) menampilkan bidang-bidang ekspresi kanvas untuk menjadi semacam teater simbol yang mementaskan perjumpaan, persilangan, dan penumpukkan aneka simbol-simbol yang menunjukkan keadaan yang tak tespisahkan antara kepentingan sosial dan modus pemahaman personal.
Ketujuh, cara mengenali dinamika kepentingan sosial juga dilakukan para seniman melalui sudut pandang kultural, melibatkan ritus-ritus tradisi budaya sebagai cara belajar dan mengapresiasi tatanan
nilai hidup secara keseluruhan. Karya-karya: “Pray of Life” (Andreas
Camelia), “The Best Offering” (Deddy PAW), atau “Dancing in The Sky” (Putu Sutawijaya) menunjukkan ekspresi bentuk-bentuk pernyataan pandangan personal yang juga berkaitan dengan nilai tradisi atau adat budaya. Karya-karya ini menjadi potensi pernyataan tanda dalam lingkup kesadaran sebuah ritus budaya; pun ekspresi dari karya-karya mereka adalah kepekaan untuk menyatakan semacam ritus tanda.
Kedelapan, cara pandang yang paling sublim dinyatakan melalui ekspresi karya-karya yang lebih bersifat abstrak, seperti: “The Flow” (Mola), “Signatured by Artificial Monday” (Nandang Gumelar), “Kitab Intuisi IX” (Sutjipto Adi), atau “Melewati Hitam melalui Putih” (William Robert). Ekspresi karya yang non-representasional atau abstrak tidak bersandar pada penjelasan tataran pemikiran yang mendahului proses penciptaan karya. Potensi pikiran, jikapun digunakan untuk menyatakan keterangan karya, bakan tak berlaku sebagai konsep yang menjelaskan maksud penciptaan karya. Ekspresi karya-karya abstrak justru menyatakan ‘strategi
berpikir atau berpendapat’ yang bersumber dari cara pandangan
dunia-dalam seorang seniman untuk dinyatakan sebagai tindakan atau nilai-nilai pengalaman apresiatif secara langsung.
Delapan pendekatan atau cara para seniman berkarya dan menyatakan pandangan-pandangan mereka tentang perubahan ‘normalitas’ baru adalah manifestasi cara penyampaian mereka tentang urgensi seni dan caranya bagi hidup saat ini. Kompleksitas perubahan realitas hidup kini, bagi mereka, bisa dipahami bahkan dijelajahi dalam alur interaksi pengalaman hidup secara langsung. Kreasi dan apresiasi seni adalah sebuah kesempatan bagi tiap-tiap orang untuk menghidupkan pengalaman khas dan khusus masing-masing dalam rangka mentransformasikan alur pengalaman ‘hidup seperti biasanya’ secara lebih bermakna.
Sebuah penalaran lain terkait tema Edisi Aesthetic Defense Mechanism, menurut Rifky “ Goro” Effendy lewat narasi dalam kurasi karya 27 seniman ini adalah;
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!