Menikmati Karya 27 Perupa dalam Pameran "Aesthetic Defense Mechanism" di Galeri Nyoman Nuarta

ED
Jumat, 26 Mei 2023 | 04:17 WIB
Bagikan
Menikmati Karya 27 Perupa dalam Pameran "Aesthetic Defense Mechanism" di Galeri Nyoman Nuarta

VISI.NEWS | BANDUNG BARAT - Di Galeri Teras NuArt, Sculpture Park, milik Nyoman Nuarta, di Jalan Setra Duta Hegar, Ciwaruga, Kec. Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat digelar pameran lukisan 27 Perupa dari berbagai kota. Mereka berkalaborasi tampil mengusung tema," Edisi Aesthetic Defense Mechanism," yang menurut kurator Rizki A. Zaelani, manusia selalu mampu menemukan cara pertahanan diri, menghidupkan dorongan untuk merayakan kesempatan dan anugerah hidup.

Kamis (25/5/2023) siang, penulis berkesempatan menyaksikan karya 27 seniman tersebut. Mereka adalah Asmujo Jono Irianto, Andreas Camelia, Butet Kartaredjasa Bambang Herras, Bob Tediana, Chusin Setiadikara, Deddy PAW Devy Ferdianto, Diyanto, Erica Hestu Wahyuni, Fitrajaya Nusananta, Gusmen Heriadi, Haris Purnomo, Herry Dim, Isa Perkasa Mola, Ismanto Wahyudi, Jumaldi Alfi, Nano Warsono, Nandanggawe Putu Sutawijaya, R E Hartanto, Ronald Manullang, Sutjipto Adi, Tisna Sanjaya, Toni Masdiono dan William Robert.

 

Rizki A. Zaelani, mengungkapkan, seni mungkin bisa jadi mekanisme pertahanan diri manusia, sebagai cara khas merangkul kepenuhan hidup, menciptakan harapan, dan pengalaman keseimbangan.

Sebagai ‘mekanisme pertahanan estetik,’ ekspresi seni mempertahankan keberadaan manusia dari keruntuhan mental dan moral. Ada beberapa cara yang dinyatakan oleh para seniman dalam pameran ini.

Rizki A. Zaelani sendiri menafsirkan cara manusia dalam mempertahankan dirinya, melalui 8 cara, dimana menurutnya hal itu tak lepas dengan keterkaitan pada hal ;

Pertama, mengenali-ulang apa yang nampak sebagai realitas; ekspresi karya adalah hasil gambaran dari cara menemukan dan mengenali-kembali rincian penampakkan realitas keseharian secara lebih cermat. Karya-karya: “The Hard Workers” (Bobby Tediana), “Bahasa Jeruk” (Chusin Setiadikara), atau “Pejuang Kehidupan” (Toni Masdiono) menunjukkan cara penggambaran yang rinci demi menemukan apa yang luput dari tatap mata biasa.

Kedua, menanggapi kegetiran pengalaman hidup dengan cara menunjukkan gambaran realitas komikal. Cara ini berupaya menggali pengalaman paradoksal hidup keseharian melalui pementasan peran subyek ‘sang pelaku’ dalam gambaran ekspresi yang bersifat humor maupun pencampurannya dengan efek pengalaman glamor. Karya-karya “Panen Badut”, “Lagi Musim” (Butet Kartaredjasa) atau “BeBuaya” (Haris Purnomo) adalah contohnya. Ketiga, mengurai misteri yang tersembunyi dalam pengalaman hidup yang sering kali paradoks, para seniman sering kali menyatakan potret-dirinya sebagai selubung yang menunggu untuk tersingkapkan kesadaran. Karya-karya: “Masker 2024” (Isa Perkasa), “Digital Spiritualism: I like to see myself as a prophet #1 & 2” (Jumaldi Alfi), “Self-Portrait: Two Face” (Nano Warsono), atau “Potret-diri sebagai Penjual Arak” (RE. Hartanto) menggali permainan dari peran identitas atau otoritas sang-pencipta (melalui subyek seniman) justru untuk menjadikannya sebagai obyek dari cara penilai baru atau evaluasi nilai mengenai pengalaman hidup. Keempat, tentang sosok seniman atau wujud karya seni adalah gambaran dari ‘realitas-bagian’ yang merefleksikan realitas pengalaman hidup yang lebih besar. Karya-karya: “Untitled” (Asmudjo J. Irianto), “Under Shadow of Alter Ego” (Devy Ferdianto), “Si Cangkur gives a joke to Maurizio Catelan: your banana is rotten!” (Herry Dim), atau “Patient#9” (Ronald Manullang) adalah ekspresi yang menjelaskan gambaran realitas via permasalahan dalam ekspresi dunia seni itu sendiri. Karya-karya tersebut menakar-ulang pemaknaan realitas hidup dalam ekspresi karya seni, sosok seniman, atau peristiwa seni dalam rangka melapangkan kembali masalah-masalah hidup yang telah ternyatakan bentuk-bentuk representasi ekspresi seni yang dimaksud.

Kelima, cara lain untuk menyapa kompleksitas pengalaman hidup justru dilakukan dengan cara mensahaja, sukacita, dan sikap apresiatif. Karya-karya “Mandalika” (Erica Hestu Wahyuni) dan “Out of The Treasure Box” (Ismanto Wahyudi). Ekspresi karya-karya ini justru menampilkan jalinan berbagai persoalan untuk merayakan pengalaman hidup dalam gambaran lugas bahkan jenaka.

Keenam, kompleksitas keadaan hidup seringkali dinyatakan dalam ungkapan simbolik, baik dengan bentuk simbol-simbol yang bersifat umum maupun yang berkonotasi subjektif dan personal. Ekspresi karya-karya seperti: “Nusantara Jaya (Wirid Visual)” (Bambang Heras), “Hipokrit” (Tisna Sanjaya), “Ode to The Survivors” (Diyanto), “My Universe” (Fitra Jaya), atau “Lepas Bayang” (Gusmen Heriadi) menampilkan bidang-bidang ekspresi kanvas untuk menjadi semacam teater simbol yang mementaskan perjumpaan, persilangan, dan penumpukkan aneka simbol-simbol yang menunjukkan keadaan yang tak tespisahkan antara kepentingan sosial dan modus pemahaman personal. Ketujuh, cara mengenali dinamika kepentingan sosial juga dilakukan para seniman melalui sudut pandang kultural, melibatkan ritus-ritus tradisi budaya sebagai cara belajar dan mengapresiasi tatanan nilai hidup secara keseluruhan. Karya-karya: “Pray of Life” (Andreas Camelia), “The Best Offering” (Deddy PAW), atau “Dancing in The Sky” (Putu Sutawijaya) menunjukkan ekspresi bentuk-bentuk pernyataan pandangan personal yang juga berkaitan dengan nilai tradisi atau adat budaya. Karya-karya ini menjadi potensi pernyataan tanda dalam lingkup kesadaran sebuah ritus budaya; pun ekspresi dari karya-karya mereka adalah kepekaan untuk menyatakan semacam ritus tanda. Kedelapan, cara pandang yang paling sublim dinyatakan melalui ekspresi karya-karya yang lebih bersifat abstrak, seperti: “The Flow” (Mola), “Signatured by Artificial Monday” (Nandang Gumelar), “Kitab Intuisi IX” (Sutjipto Adi), atau “Melewati Hitam melalui Putih” (William Robert). Ekspresi karya yang non-representasional atau abstrak tidak bersandar pada penjelasan tataran pemikiran yang mendahului proses penciptaan karya. Potensi pikiran, jikapun digunakan untuk menyatakan keterangan karya, bakan tak berlaku sebagai konsep yang menjelaskan maksud penciptaan karya. Ekspresi karya-karya abstrak justru menyatakan ‘strategi berpikir atau berpendapat’ yang bersumber dari cara pandangan dunia-dalam seorang seniman untuk dinyatakan sebagai tindakan atau nilai-nilai pengalaman apresiatif secara langsung. Delapan pendekatan atau cara para seniman berkarya dan menyatakan pandangan-pandangan mereka tentang perubahan ‘normalitas’ baru adalah manifestasi cara penyampaian mereka tentang urgensi seni dan caranya bagi hidup saat ini. Kompleksitas perubahan realitas hidup kini, bagi mereka, bisa dipahami bahkan dijelajahi dalam alur interaksi pengalaman hidup secara langsung. Kreasi dan apresiasi seni adalah sebuah kesempatan bagi tiap-tiap orang untuk menghidupkan pengalaman khas dan khusus masing-masing dalam rangka mentransformasikan alur pengalaman ‘hidup seperti biasanya’ secara lebih bermakna.

Sebuah penalaran lain terkait tema Edisi Aesthetic Defense Mechanism, menurut Rifky “ Goro” Effendy lewat narasi dalam kurasi karya 27 seniman ini adalah;

Seni dan Seniman: Tak ada matinya

Kita hidup sekarang dalam era teknologi informasi dimana citraan menyerbu setiap detik, menciptakan lapisan-lapisan fatamorgana realitas.

Mencampuradukkan berbagai nilai-nilai, terutama antara yang privat dan yang publik, yang puitis dan yang politis, yang sakral dan yang profan. Kondisi ini semakin tampak dan tak terhindarkan dalam keseharian masyarakat terutama di Indonesia. Melalui mata hati para seniman ini, berbagai gempuran informasi dan citraan diredam, disaring menjadi nilai-nilai yang lebih mempunyai makna untuk kita renungkan, walaupun tetap menyisakan kenikmatan mata tersendiri. Walaupun saat ini, perilaku masyarakat umumnya kepada karya seni terutama yang saya perhatikan di berbagai pameran–pameran masih memperlakukannya sebagai “latar“ untuk berfoto ria, tetapi kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat pameran semakin meningkat.

Yang perlu didorong adalah meningkatkan “kualitas” apresiasinya, dan ini adalah tantangan para penyelenggara pameran seni rupa. Sejatinya karya seni bukanlah untuk dinikmati sekilas mata atau dinikmati melalui layar gawai, ia haruslah dialami secara langsung dalam konteks ruang pameran.

Berbeda ketika melihat di layar gawai yang tampak datar atau hilang elemen-elemen rupa seperti kualitas permukaan tekstur, warna maupun dimensinya. Atau mungkin seperti yang pernah diutarakan pemikir Jerman, Walter Benjamin (1892 -1940), kita akan kehilangan elemen “auratik” suatu karya seni bila hanya melihat melalui lembaran halaman reproduksi atau layar komputer. Aspek “ auratik “ ini tetap menjadi semacam pancaran magnet karya seni, baik lukisan maupun bentuk karya lain. Elemen-elemen seperti goresan, jejak kuas atau tangan, campuran warna-warna cat, ukuran/skala, ruang dan sebagainya menjadi seperti faktor “sensasi” menurut Gilles Deleuze (1925 – 1995), seorang filsuf Perancis kontemporer. Menurutnya,” Sebagai penonton, aku mengalami sensasi hanya dengan cara masuk kelukisan, dengan mencapai antara yang mencerap dengan yang dicerap“. Mungkin sensasi menurut Gilles, bisa dialami dengan pengalaman langsung dengan karya seni atau berinteraksi dalam konteks ruang pameran bukan sekedar citraan. Kita semua mengalami suatu waktu ketika pameran-pameran seni berlangsung secara daring atau online, pada masa pembatasan aktivitas karena pandemik Covid-19.

Galeri-galeri, museum dan acara-acara seni lainnya ditutup sementara untuk kunjungan publik, berbagai acara pameran dan pertunjukan berlangsung dengan melalui layar datar. Banyak juga para pengelola acara pameran membangun galeri-galeri ruang maya atau virtual, diskusi-diskusi melalui zoom marak diselenggarakan. Untuk sementara, selama pembatasan ruang gerak berlaku, mungkin kegiatan serba daring seperti ini bisa menjadi alternatif, tetapi apakah penikmat seni bisa benar-benar merasakan “sensasi’ suatu lukisan atau karya seni lainnya, sehingga tubuh kita sepenuhnya mencerap nilai yang ada pada karya tersebut, masih menjadi pertanyaan.

Walaupun akses ke ruang maya bisa sangat menyebar luas (viral) serta terhitung akurat jumlah kunjungannya. Tetapi kegiatan selama pembatasan fisik itu setidaknya sangat berarti untuk para praktisi seni, mereka masih bisa terus berkarya dan melanjutkan hidup. Beberapa artikel, yang pernah saya baca menyimpulkan bahwa, kegiatan-kegiatan tersebut niscaya sangat positif terutama untuk memberikan optimisme, menjaga “apikehidupan tetap “menyala” di tengah ketidak-pastian kehidupan di tengah pandemi, terutama dalam dunia kesenian. Sepanjang penulis menggeluti maupun mempelajari sejarah dunia seni rupa baik di Indonesia maupun internasional, praktek seni mempunyai daya tahan dan juang dalam menghadapi berbagai angin perubahan, apakah itu perubahan zaman atau paradigma, perubahan politik, sosial, ekonomi dan lainnya. Begitupun dengan adanya wabah global. Kemampuan para praktisi dalam menghadapi berbagai perubahan ini yang saya kira yang harus diketahui masyarakat luas. Kegairahan para seniman untuk terus-menerus berkarya hingga akhir hayatnya tidak bisa dirumuskan ke dalam suatu teori-teori yang baku, “api” kehidupan itu selalu hadir didalam tubuh setiap seniman, ia sudah seperti oksigen bagi diri seniman. Walaupun mereka akhirnya tubuh mati jua, tetapi karya-karyanya tetap terus hidup. Contohlah Vincent Van Gogh mengakhiri hidupnya dengan cara tragis dengan kesendirian, tetapi lukisan-lukisannya mampu memberikan makna bagi kehidupan saat ini. Atau banyak karya dan seniman yang semasa hidup hampir terlupakan atau sengaja dilupakan, pada akhirnya karya-karya mereka bisa berbicara kepada manusia di zaman sesudahnya.

Dengan perkembangan mutakhir berbagai ilmu-ilmu sejarah seni, filsafat, sosial, maupun perkembangan dalam lembaga-lembaga seni seperti museum dan penelitian arsip-arsip.

Pada pameran di NuArt ini karya-karya yang ditampilkan berasal dari Bandung, Yogyakarta, Jakarta dan Bali, menunjukan corak yang begitu beragam. Mulai dari realis, surreal hingga abstraksi. Representasional maupun non-representasional. Serta, berbagai teknis penggarapan lukisan.

Hal ini menunjukan keberagaman eksplorasi maupun kemampuan artistik para seniman peserta, tetapi bisa juga disebabkan keterbukaan kuratorial yang disodorkan kepada para seniman.

Sehingga memberikan kelonggaran para seniman peserta untuk menanggapi persoalan melalui ekspresi personalnya masing-masing. Karya-karya mereka banyak terkait dengan suatu pemikiran dari persoalan nyata atau keseharian, mungkin kejadian-kejadian yang kita alami bersama. Kita disajikan dengan garapan artistik yang membangkitkan “sensasi” sehingga membangkitkan suatu getaran pemikiran dan perasaan atau greget kepada jiwa kita masing-masing, sebagai pengamat.

Para seniman mengerjakan karya-karyanya melibatkan totalitas tubuh: mencerap persoalan, menyaring dengan melibatkan permenungan: menyeimbangkan antara emosi dan nalar. Menggunakan keterampilan atas kendali tangan untuk menggoreskan kuas, pensil, arang, menuangkan tinta, mencetak, mengetok dan mengelas logam, meremas tanah liat dan seterusnya.

Di sanalah “sensasi” dan nilai yang seutuhnya muncul dan menular.

Berbeda dengan gejala jaman sekarang dengan kemajuan teknologi buatan, yang sedang digandrungi para pengguna smartphone dan sosial-media seperti Artificial Intelligence (AI) yang semakin pandai memanipulasi realitas , menyulap wajah kita menjadi tokoh-tokoh dunia fiksi atau lukisan-lukisan tersohor, menjadi sensasi yang dangkal dan penuh kesementaraan dan mudah dilupakan.

Yaa, lagi-lagi kita coba di ajak sedikit melakukan refleksi pikir, atas apa yang digambarkan oleh dua kurator pada karya 27 seniman hebat yang tengah berpameran ini.

Di pameran yang akan berlangsung sampai tanggal 23 Juni 2023, di Galeri NuArt Sculpture Park, Jalan Setra Duta Raya Blok L6, Kab. Bandung, Jawa Barat, para seniman tersebut mengajak semua penikmat seni untuk mengapresiasi karya mereka.

Sekali lagi, biarlah mereka 27 seniman ini yang berproses, dengan mengindahkan dan memunculkan nilai-nilai kedalaman jiwa yang mereka pantulkan dalam karyanya, hingga mampu mengeliatkan dan menghadirkan kita sebagai penikmat, sebagai relasi-relasi dari para seniman ini, ataupun kolektor yang memiliki intuisi yang dalam pada membangun ekspektasi karya para seniman tersebut, hingga mampu menghidupkan semangat mereka untuk terus berkonsistensi pada kesadaran terus berkarya.

Untuk seterusnya, karya mereka bisa kita nikmati bersama, kita Selami makna-makna dan pesannya, dengan memandangi keindahan dari jiwa yang tergambarkan dalam aneka warna, gaya goresan, style, komposisi, hingga menghadirkan aksentuasi kata, "Luarbiasa."

@Bambang Melga Suprayogi, M.Sn

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.