Menikmati Karya 27 Perupa dalam Pameran "Aesthetic Defense Mechanism" di Galeri Nyoman Nuarta
Seni dan Seniman: Tak ada matinya
Kita hidup sekarang dalam era teknologi informasi dimana citraan menyerbu setiap detik, menciptakan lapisan-lapisan fatamorgana realitas.
Yang perlu didorong adalah meningkatkan “kualitas” apresiasinya, dan ini adalah tantangan para penyelenggara pameran seni rupa. Sejatinya karya seni bukanlah untuk dinikmati sekilas mata atau dinikmati melalui layar gawai, ia haruslah dialami secara langsung dalam konteks ruang pameran.
Berbeda ketika melihat di layar gawai yang tampak datar atau hilang elemen-elemen rupa seperti kualitas permukaan tekstur, warna maupun dimensinya. Atau mungkin seperti yang pernah diutarakan pemikir Jerman, Walter Benjamin (1892 -1940), kita akan kehilangan elemen “auratik” suatu karya seni bila hanya melihat melalui lembaran halaman reproduksi atau layar komputer. Aspek “ auratik “ ini tetap menjadi semacam pancaran magnet karya seni, baik lukisan maupun bentuk karya lain. Elemen-elemen seperti goresan, jejak kuas atau tangan, campuran warna-warna cat, ukuran/skala, ruang dan sebagainya menjadi seperti faktor “sensasi” menurut Gilles Deleuze (1925 – 1995), seorang filsuf Perancis kontemporer. Menurutnya,” Sebagai penonton, aku mengalami sensasi hanya dengan cara masuk kelukisan, dengan mencapai antara yang mencerap dengan yang dicerap“. Mungkin sensasi menurut Gilles, bisa dialami dengan pengalaman langsung dengan karya seni atau berinteraksi dalam konteks ruang pameran bukan sekedar citraan. Kita semua mengalami suatu waktu ketika pameran-pameran seni berlangsung secara daring atau online, pada masa pembatasan aktivitas karena pandemik Covid-19.Galeri-galeri, museum dan acara-acara seni lainnya ditutup sementara untuk kunjungan publik, berbagai acara pameran dan pertunjukan berlangsung dengan melalui layar datar. Banyak juga para pengelola acara pameran membangun galeri-galeri ruang maya atau virtual, diskusi-diskusi melalui zoom marak diselenggarakan. Untuk sementara, selama pembatasan ruang gerak berlaku, mungkin kegiatan serba daring seperti ini bisa menjadi alternatif, tetapi apakah penikmat seni bisa benar-benar merasakan “sensasi’ suatu lukisan atau karya seni lainnya, sehingga tubuh kita sepenuhnya mencerap nilai yang ada pada karya tersebut, masih menjadi pertanyaan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!