Menikmati Karya 27 Perupa dalam Pameran "Aesthetic Defense Mechanism" di Galeri Nyoman Nuarta

ED
Jumat, 26 Mei 2023 | 04:17 WIB
Bagikan
Menikmati Karya 27 Perupa dalam Pameran "Aesthetic Defense Mechanism" di Galeri Nyoman Nuarta

Seni dan Seniman: Tak ada matinya

Kita hidup sekarang dalam era teknologi informasi dimana citraan menyerbu setiap detik, menciptakan lapisan-lapisan fatamorgana realitas.

Mencampuradukkan berbagai nilai-nilai, terutama antara yang privat dan yang publik, yang puitis dan yang politis, yang sakral dan yang profan. Kondisi ini semakin tampak dan tak terhindarkan dalam keseharian masyarakat terutama di Indonesia. Melalui mata hati para seniman ini, berbagai gempuran informasi dan citraan diredam, disaring menjadi nilai-nilai yang lebih mempunyai makna untuk kita renungkan, walaupun tetap menyisakan kenikmatan mata tersendiri. Walaupun saat ini, perilaku masyarakat umumnya kepada karya seni terutama yang saya perhatikan di berbagai pameran–pameran masih memperlakukannya sebagai “latar“ untuk berfoto ria, tetapi kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat pameran semakin meningkat.

Yang perlu didorong adalah meningkatkan “kualitas” apresiasinya, dan ini adalah tantangan para penyelenggara pameran seni rupa. Sejatinya karya seni bukanlah untuk dinikmati sekilas mata atau dinikmati melalui layar gawai, ia haruslah dialami secara langsung dalam konteks ruang pameran.

Berbeda ketika melihat di layar gawai yang tampak datar atau hilang elemen-elemen rupa seperti kualitas permukaan tekstur, warna maupun dimensinya. Atau mungkin seperti yang pernah diutarakan pemikir Jerman, Walter Benjamin (1892 -1940), kita akan kehilangan elemen “auratik” suatu karya seni bila hanya melihat melalui lembaran halaman reproduksi atau layar komputer. Aspek “ auratik “ ini tetap menjadi semacam pancaran magnet karya seni, baik lukisan maupun bentuk karya lain. Elemen-elemen seperti goresan, jejak kuas atau tangan, campuran warna-warna cat, ukuran/skala, ruang dan sebagainya menjadi seperti faktor “sensasi” menurut Gilles Deleuze (1925 – 1995), seorang filsuf Perancis kontemporer. Menurutnya,” Sebagai penonton, aku mengalami sensasi hanya dengan cara masuk kelukisan, dengan mencapai antara yang mencerap dengan yang dicerap“. Mungkin sensasi menurut Gilles, bisa dialami dengan pengalaman langsung dengan karya seni atau berinteraksi dalam konteks ruang pameran bukan sekedar citraan. Kita semua mengalami suatu waktu ketika pameran-pameran seni berlangsung secara daring atau online, pada masa pembatasan aktivitas karena pandemik Covid-19.

Galeri-galeri, museum dan acara-acara seni lainnya ditutup sementara untuk kunjungan publik, berbagai acara pameran dan pertunjukan berlangsung dengan melalui layar datar. Banyak juga para pengelola acara pameran membangun galeri-galeri ruang maya atau virtual, diskusi-diskusi melalui zoom marak diselenggarakan. Untuk sementara, selama pembatasan ruang gerak berlaku, mungkin kegiatan serba daring seperti ini bisa menjadi alternatif, tetapi apakah penikmat seni bisa benar-benar merasakan “sensasi’ suatu lukisan atau karya seni lainnya, sehingga tubuh kita sepenuhnya mencerap nilai yang ada pada karya tersebut, masih menjadi pertanyaan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.