Menikmati Karya 27 Perupa dalam Pameran "Aesthetic Defense Mechanism" di Galeri Nyoman Nuarta
VISI.NEWS | BANDUNG BARAT - Di Galeri Teras NuArt, Sculpture Park, milik Nyoman Nuarta, di Jalan Setra Duta Hegar, Ciwaruga, Kec. Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat digelar pameran lukisan 27 Perupa dari berbagai kota. Mereka berkalaborasi tampil mengusung tema," Edisi Aesthetic Defense Mechanism," yang menurut kurator Rizki A. Zaelani, manusia selalu mampu menemukan cara pertahanan diri, menghidupkan dorongan untuk merayakan kesempatan dan anugerah hidup.
Kamis (25/5/2023) siang, penulis berkesempatan menyaksikan karya 27 seniman tersebut. Mereka adalah Asmujo Jono Irianto, Andreas Camelia, Butet Kartaredjasa Bambang Herras, Bob Tediana, Chusin Setiadikara, Deddy PAW Devy Ferdianto, Diyanto, Erica Hestu Wahyuni, Fitrajaya Nusananta, Gusmen Heriadi, Haris Purnomo, Herry Dim, Isa Perkasa Mola, Ismanto Wahyudi, Jumaldi Alfi, Nano Warsono, Nandanggawe Putu Sutawijaya, R E Hartanto, Ronald Manullang, Sutjipto Adi, Tisna Sanjaya, Toni Masdiono dan William Robert.
Rizki A. Zaelani, mengungkapkan, seni mungkin bisa jadi mekanisme pertahanan diri manusia, sebagai cara khas merangkul kepenuhan hidup, menciptakan harapan, dan pengalaman keseimbangan.
Sebagai ‘mekanisme pertahanan estetik,’ ekspresi seni mempertahankan keberadaan manusia dari keruntuhan mental dan moral. Ada beberapa cara yang dinyatakan oleh para seniman dalam pameran ini.Rizki A. Zaelani sendiri menafsirkan cara manusia dalam mempertahankan dirinya, melalui 8 cara, dimana menurutnya hal itu tak lepas dengan keterkaitan pada hal ;
Pertama, mengenali-ulang apa yang nampak sebagai realitas; ekspresi karya adalah hasil gambaran dari cara menemukan dan mengenali-kembali rincian penampakkan realitas keseharian secara lebih cermat. Karya-karya: “The Hard Workers” (Bobby Tediana), “Bahasa Jeruk” (Chusin Setiadikara), atau “Pejuang Kehidupan” (Toni Masdiono) menunjukkan cara penggambaran yang rinci demi menemukan apa yang luput dari tatap mata biasa.
Kedua, menanggapi kegetiran pengalaman hidup dengan cara menunjukkan gambaran realitas komikal. Cara ini berupaya menggali pengalaman paradoksal hidup keseharian melalui pementasan peran subyek ‘sang pelaku’ dalam gambaran ekspresi yang bersifat humor maupun pencampurannya dengan efek pengalaman glamor. Karya-karya “Panen Badut”, “Lagi Musim” (Butet Kartaredjasa) atau “BeBuaya” (Haris Purnomo) adalah contohnya. Ketiga, mengurai misteri yang tersembunyi dalam pengalaman hidup yang sering kali paradoks, para seniman sering kali menyatakan potret-dirinya sebagai selubung yang menunggu untuk tersingkapkan kesadaran. Karya-karya: “Masker 2024” (Isa Perkasa), “Digital Spiritualism: I like to see myself as a prophet #1 & 2” (Jumaldi Alfi), “Self-Portrait: Two Face” (Nano Warsono), atau “Potret-diri sebagai Penjual Arak” (RE. Hartanto) menggali permainan dari peran identitas atau otoritas sang-pencipta (melalui subyek seniman) justru untuk menjadikannya sebagai obyek dari cara penilai baru atau evaluasi nilai mengenai pengalaman hidup. Keempat, tentang sosok seniman atau wujud karya seni adalah gambaran dari ‘realitas-bagian’ yang merefleksikan realitas pengalaman hidup yang lebih besar. Karya-karya: “Untitled” (Asmudjo J. Irianto), “Under Shadow of Alter Ego” (Devy Ferdianto), “Si Cangkur gives a joke to Maurizio Catelan: your banana is rotten!” (Herry Dim), atau “Patient#9” (Ronald Manullang) adalah ekspresi yang menjelaskan gambaran realitas via permasalahan dalam ekspresi dunia seni itu sendiri. Karya-karya tersebut menakar-ulang pemaknaan realitas hidup dalam ekspresi karya seni, sosok seniman, atau peristiwa seni dalam rangka melapangkan kembali masalah-masalah hidup yang telah ternyatakan bentuk-bentuk representasi ekspresi seni yang dimaksud.Kelima, cara lain untuk menyapa kompleksitas pengalaman hidup justru dilakukan dengan cara mensahaja, sukacita, dan sikap apresiatif. Karya-karya “Mandalika” (Erica Hestu Wahyuni) dan “Out of The Treasure Box” (Ismanto Wahyudi). Ekspresi karya-karya ini justru menampilkan jalinan berbagai persoalan untuk merayakan pengalaman hidup dalam gambaran lugas bahkan jenaka.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!