Mengapa Investor Asing Ramai-Ramai Lakukan Sell Indonesia?
Ilustrasi./visi.news/ekonomi bisnis.
“Mestinya hal tersebut dimanfaatkan untuk windfall ekspor namun kapasitas produksi malah dikurangi. Kementerian ESDM pun akan melakukan rencana relaksasi RKAB,” lanjutnya.
Investor kini lebih sensitif terhadap isu kebijakan dibandingkan data pertumbuhan ekonomi yang masih positif. Risiko ekonomi dapat diukur dan diterima oleh pelaku pasar, tetapi perubahan regulasi yang mendadak menimbulkan risiko tambahan.
“Pada dasarnya, risk itu bisa diukur dan diterima oleh pelaku pasar, namun kebijakan yang berubah-ubah dan tidak dikomunikasikan dengan baik membuat risk premium akan meningkat untuk sesuatu yang sebenarnya bisa diatasi sesegera mungkin,” tambah Faris.
Meskipun tekanan pasar berlangsung, sektor riil Indonesia tetap solid. Pertumbuhan ekonomi masih positif, dan aktivitas konsumsi masyarakat, termasuk penjualan sepeda motor dan mobil, menunjukkan ketahanan.
Investor institusi menyusun strategi berdasarkan parameter risiko terukur, seperti risk premium dan sharpe ratio. Ketika risiko baru muncul akibat perubahan regulasi mendadak, langkah konservatif berupa pengurangan porsi investasi menjadi respons umum hingga arah kebijakan lebih jelas.
Fenomena 'Sell Indonesia' juga menarik perhatian media internasional. The Straits Times menulis bahwa investor global semakin kehilangan kepercayaan setelah pasar saham Indonesia mencatat kinerja terburuk di antara lebih dari 90 indeks global sepanjang 2026. Pelemahan rupiah dan keluarnya dana asing dari pasar obligasi turut memperkuat sentimen tersebut.
Laporan itu mengutip George Boubouras, Head of Research K2 Asset Management, yang menilai perdagangan besar di Asia saat ini sebagai 'Sell Indonesia'. Asia Head of Rates and Foreign Exchange Strategy J.P. Morgan Private Bank, Tang Yuxuan, menyebut ketidakpastian politik domestik menjadi risiko yang membuat investor menunggu hingga arah kebijakan lebih jelas.
Pemerintah berpendapat Indonesia membutuhkan kebijakan lebih agresif untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, meningkatkan nilai tambah industri, dan memanfaatkan posisi strategis dalam rantai pasok global. Namun, investor menekankan bahwa yang menjadi persoalan bukan semata arah kebijakan, melainkan kepastian pelaksanaan dan komunikasi yang konsisten kepada pasar.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!