Menelusuri Jejak Sang Pendiri: KH. M. Thohir, Ulama Pelamunan yang Menyalakan Cahaya dari Banten
“Abuya Thohir bahkan memondokkan dua putranya, KH. Jueni dan KH. Zaini, di Pesantren Buntet. Itu bentuk rasa hormat dan keyakinannya pada sanad keilmuan,” kenang Kiai Mochammad Thohir. Keikhlasan Abuya dalam mencari ilmu menjadi teladan turun-temurun. Ia bukan hanya belajar, tapi juga menghidupkan ilmu itu kembali di tanah kelahirannya.
Sekembalinya ke Banten, Abuya Thohir meneruskan pesantren ayahnya di Bale Batu. Namun, santri yang datang makin banyak. Persediaan air di daerah itu menipis, membuat aktivitas belajar terganggu. “Kiai Ya’qub, salah satu muridnya, memberi saran agar beliau pindah ke Pelamunan,” ujar Kiai Mochammad Thohir. Di sana air melimpah, tanah subur, dan aksesnya mudah dijangkau. Maka, pada tahun 1929 M, Abuya Thohir mendirikan Pondok Pesantren Pelamunan yang kelak menjadi salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Banten.
“Belum sah jadi kiai kalau belum pernah mengaji kepada KH. M. Thohir Pelamunan,” begitu ujar para ulama Banten zaman dulu. Ucapan itu bukan sekadar sanjungan, melainkan bentuk pengakuan atas keilmuan dan keberkahan sosok Abuya Thohir. Di bawah bimbingannya, ratusan santri datang dari berbagai penjuru, menimba ilmu agama dan akhlak. Suara tilawahnya merdu, bacaan shalatnya penuh kekhusyukan. Setiap Jumat subuh, ia membaca Surat As-Sajdah dan Al-Insan — tradisi yang masih dilestarikan santri At-Thohiriyah hingga kini.
Dari sisi keluarga, Abuya Thohir menikah dengan Nyai Siti Wasi’ah dari Pulo Ampel, Serang. Dari pernikahan itu lahirlah empat anak: KH. Jueni, KH. Zaini, Siti Maryam, dan KH. Lujaini. Dari merekalah, pesantren ini kemudian bercabang ke berbagai wilayah — termasuk Lampung, tempat KH. Jueni gugur sebagai syahid saat Agresi Militer Belanda II. Setelah Nyai Wasi’ah wafat, Abuya Thohir menikah dengan Nyai Anjar dari Ketengahan dan dikaruniai empat anak lagi, salah satunya Prof. KH. Yumni Thohir, tokoh Nahdlatul Ulama dan penceramah ulung yang dikenal hingga tingkat nasional.
Meski hidup di masa penjajahan, Abuya Thohir tetap mengajarkan cinta tanah air. Dalam setiap pengajiannya, ia menanamkan semangat perjuangan tanpa kehilangan kelembutan. Ia percaya, mencintai bangsa adalah bagian dari iman. Maka tak heran jika banyak muridnya yang kemudian ikut berjuang, baik di medan tempur maupun lewat pendidikan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!