Menelusuri Jejak Sang Pendiri: KH. M. Thohir, Ulama Pelamunan yang Menyalakan Cahaya dari Banten

ED
Kamis, 23 Oktober 2025 | 10:24 WIB
Bagikan
Menelusuri Jejak Sang Pendiri: KH. M. Thohir, Ulama Pelamunan yang Menyalakan Cahaya dari Banten

Oleh Abdul Majid Ramdhani

BANTEN dikenal sebagai tanah para jawara — keras, gagah, dan penuh semangat perjuangan. Namun, di balik ketegasan itu, Banten juga menyimpan kelembutan yang datang dari para ulama. Di sanalah, kekuatan ilmu dan keberanian berpadu menjadi satu. Salah satu nama besar yang tak boleh dilupakan dari tanah ini adalah KH. Muhammad Thohir, pendiri Pondok Pesantren Pelamunan — kini dikenal sebagai Pondok Pesantren Moderat At-Thohiriyah di Serang, Banten. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1929, menjadi saksi perjalanan panjang dakwah, keilmuan, dan khidmah Abuya Thohir bagi umat.

“Abuya Thohir lahir di Kampung Bale Batu, Taktakan, Serang, sekitar tahun 1898,” tutur KH. Mochammad Thohir, Lc., salah satu dzuriyat sekaligus Dewan Pengasuh Pondok Pesantren At-Thohiriyah Pelamunan. Dari garis keturunan yang bersambung pada para ulama besar, Abuya Thohir tumbuh di lingkungan yang sarat nilai keagamaan. Ayahnya, Abuya Sayyidi bin Abuya Abdul Hayyi, dikenal luas sebagai sosok alim dan zuhud. Dari sinilah, semangat mencari ilmu dan berkhidmah itu tumbuh dan berakar dalam jiwa muda Thohir kecil.

Perjalanan ilmunya tak berhenti di Serang. Abuya muda menapaki jalan panjang thalabul ‘ilmi ke berbagai pesantren. Salah satu guru yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah Syekh Tubagus Ma’mun Al-Bantani, ulama besar dari Lontar. Dari beliau, Abuya Thohir menimba ilmu Al-Qur’an secara talaqqi hingga mendapat sanad yang bersambung kepada para ulama qira’at di Makkah. Suatu hari, gurunya berkata dengan nada berpesan, “Jika engkau ingin menyempurnakan ilmu ulumul Qur’an dan qira’atmu, sementara aku sudah tiada, pergilah ke muridku di Buntet, Cirebon — namanya Kiai Abbas.”

Pesan itu diingat kuat oleh Abuya Thohir. Setelah menimba ilmu hadis kepada Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang — ia hendak pulang ke Banten. Namun di tengah perjalanan, ia teringat pesan sang guru. Maka, alih-alih pulang, ia justru berbelok arah ke Cirebon, menuju Pondok Pesantren Buntet. Di sana ia bertemu KH. Abbas Buntet, ulama kharismatik sekaligus pejuang kemerdekaan. Kepada beliau, Abuya Thohir menyempurnakan ilmu Al-Qur’an dan kemudian dipercaya untuk mengajar kitab kuning. Dari sinilah tampak bahwa ilmunya tidak hanya mendalam, tapi juga diakui para guru besar sezamannya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.