VISI | Bijak Bermedia Sosial: Antara Regulasi dan Realitas

Desi Rossilawati
Senin, 30 Maret 2026 | 07:29 WIB
Bagikan
VISI | Bijak Bermedia Sosial: Antara Regulasi dan Realitas

Tanpa pengawasan yang serius, aturan hanya akan menjadi simbol. Tanpa sanksi yang jelas, kebijakan hanya akan menjadi imbauan. Dan tanpa keteladanan, semua itu akan kehilangan makna. Di titik ini, dunia pendidikan tidak bisa lagi bersikap netral. Dinas pendidikan, sekolah, hingga guru harus mengambil peran aktif bukan sekadar mengikuti arus kebijakan, tetapi menghidupkannya dalam praktik nyata.

Namun, di sinilah kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak selalu ideal. Tidak sedikit sekolah yang belum memiliki aturan jelas terkait penggunaan gawai. Bahkan, dalam beberapa kasus, guru sendiri belum sepenuhnya mampu mengelola interaksi digital secara bijak. Bagaimana mungkin kita mengajarkan etika bermedia kepada siswa, jika pendidiknya sendiri belum menjadi contoh? Kritik ini mungkin terasa keras, tetapi perlu disampaikan. Karena perubahan tidak akan lahir dari kenyamanan.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah lemahnya sinergi antara sekolah dan keluarga. Di satu sisi, sekolah berusaha membatasi penggunaan gawai. Di sisi lain, di rumah, anak diberikan akses tanpa kontrol. Akhirnya, kebijakan menjadi timpang. Anak-anak berada di tengah dua dunia yang tidak selaras di sekolah dibatasi, di rumah dibiarkan. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka kebijakan pembatasan usia hanya akan menjadi formalitas tanpa dampak signifikan.

Bijak bermedia sosial tidak cukup dengan membatasi. Ia membutuhkan pendidikan yang mendalam. Anak-anak perlu dibekali dengan kemampuan: memahami risiko digital, memilah informasi, dan menjaga etika dalam berinteraksi.

Ini yang disebut sebagai literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi kemampuan untuk menggunakannya dengan sadar dan bertanggung jawab. Sayangnya, literasi digital sering kali hanya menjadi wacana. Ia dibicarakan, tetapi belum sepenuhnya diintegrasikan dalam praktik pembelajaran.

Kita juga perlu jujur mengakui bahwa tantangan terbesar bukan pada anak-anak, tetapi pada orang dewasa. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Dan yang mereka lihat hari ini adalah orang dewasa yang: sulit lepas dari gawai , mudah terjebak dalam arus informasi, serta kurang bijak dalam bermedia sosial  Dalam situasi seperti ini, sangat sulit mengharapkan perubahan pada anak tanpa perubahan pada lingkungan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.