VISI | Bijak Bermedia Sosial: Antara Regulasi dan Realitas
Karena itu, jika kebijakan ini ingin berhasil, maka pendekatannya tidak bisa parsial. Ia harus menyentuh seluruh ekosistem: pemerintah yang tegas, sekolah yang konsisten, guru yang menjadi teladan, serta orang tua yang terlibat aktif. Tanpa itu semua, kita hanya akan mengulang pola lama: kebijakan dibuat, dipuji, lalu perlahan dilupakan.
Pada akhirnya, pembatasan media sosial bukan soal melarang, tetapi soal menjaga. Menjaga anak-anak dari paparan yang belum waktunya. Menjaga kualitas belajar mereka. Dan yang paling penting, menjaga masa depan mereka.
Namun menjaga tidak bisa dilakukan setengah hati. Ia membutuhkan keberanian untuk tegas, untuk konsisten, dan untuk memberi contoh. Jika tidak, maka kita hanya sedang menciptakan ilusi perubahan. Dan pendidikan tidak membutuhkan ilusi. Ia membutuhkan keseriusan.
Kini pilihan ada di tangan kita. Apakah kebijakan ini akan menjadi titik balik menuju budaya digital yang lebih sehat? Ataukah hanya menjadi satu lagi regulasi yang hilang ditelan rutinitas?
Jawabannya tidak ada pada teks kebijakan. Tetapi pada sikap kita semua dalam menjalaninya. Bijak bermedia sosial bukan sekadar slogan. Ia adalah ujian kedewasaan kita sebagai bangsa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!