KHUTBAH JUMAT: Jaga Hati dari Iri atas Nikmat Orang Lain
Ilustrasi./visi.news/ist.
إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ
Artinya, “Apabila salah seorang di antara kalian melihat seseorang yang dilebihkan darinya dalam hal harta dan penampilan, maka hendaklah ia melihat kepada orang yang lebih rendah darinya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Hadis ini mengajarkan satu pelajaran yang sangat penting. Yang sering membuat hati kita gelisah bukan karena nikmat Allah sedikit, melainkan karena mata kita terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain. Kita lebih mudah melihat apa yang belum kita miliki daripada mensyukuri karunia yang selama ini telah Allah titipkan kepada kita.
Padahal, syukur dan iri berawal dari tempat yang sama, yaitu cara kita memandang kehidupan. Orang yang setiap hari hanya melihat ke atas akan merasa dirinya selalu kurang. Berapa pun hartanya, ia tetap merasa miskin. Setinggi apa pun jabatannya, ia masih merasa tertinggal. Sebaliknya, orang yang sesekali melihat ke bawah akan menyadari betapa banyak nikmat Allah yang selama ini luput dari rasa syukurnya.
Karena itu, Rasulullah saw. tidak memerintahkan kita untuk berhenti berusaha menjadi lebih baik. Beliau hanya mengajarkan agar ukuran syukur jangan diambil dari orang yang lebih tinggi, tetapi dari mereka yang hidup dalam keterbatasan. Dengan cara itulah hati tetap tenang meskipun dunia terus berubah.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Nasihat Rasulullah saw. itu terasa semakin relevan pada zaman sekarang. Jika dahulu seseorang hanya melihat kemewahan ketika berkunjung ke rumah tetangga atau menghadiri sebuah acara, hari ini semuanya hadir di dalam genggaman tangan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!