KHUTBAH JUMAT: Jaga Hati dari Iri atas Nikmat Orang Lain
Ilustrasi./visi.news/ist.
Cukup membuka media sosial, dalam hitungan menit kita dapat melihat rumah-rumah mewah, kendaraan mahal, liburan ke luar negeri, jabatan baru, hingga berbagai pencapaian yang tampak begitu sempurna.
Masalahnya, media sosial hanya memperlihatkan bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Kita melihat senyumnya, tetapi tidak melihat air matanya. Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak mengetahui perjuangan dan ujian yang harus ia lalui. Namun, jika hati tidak dijaga, potongan-potongan kehidupan itu sudah cukup untuk menumbuhkan iri di dalam dada.
Bayangkan ketika kita melihat seorang teman mengunggah foto mobil barunya. Hati yang tidak dijaga akan segera berbisik, "Mengapa aku belum mampu seperti dia?" Dari satu bisikan itu lahirlah kegelisahan. Lalu muncul rasa tidak puas terhadap rezeki yang Allah berikan. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya memaksakan diri berutang hanya agar terlihat setara dengan orang lain.
Padahal, Rasulullah saw. mengajarkan arah pandangan yang berbeda. Ketika melihat orang yang lebih berada, ingatlah saudara-saudara kita yang setiap hari masih berangkat bekerja dengan sepeda tua, menunggu angkutan umum, atau bahkan berjalan kaki demi menghidupi keluarganya. Saat itulah hati akan berkata, "Ya Allah, ternyata nikmat-Mu kepadaku begitu banyak."
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Begitu pula ketika melihat teman memperoleh jabatan yang lebih tinggi. Jangan biarkan hati dipenuhi iri. Ingatlah masih banyak saudara kita yang hingga hari ini terus berjuang mencari pekerjaan. Ada yang mengirim puluhan lamaran, tetapi belum juga mendapat panggilan.
Ada yang bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Kesadaran seperti ini bukan untuk merendahkan penderitaan orang lain, melainkan untuk membangunkan rasa syukur yang sering tertidur dalam diri kita.
Demikian pula ketika melihat seseorang dianugerahi wajah yang rupawan, tubuh yang sehat, dan kehidupan yang tampak sempurna. Jangan terburu-buru membandingkan diri. Ingatlah, di luar sana ada saudara-saudara kita yang setiap hari berjuang melawan penyakit, hidup dengan keterbatasan fisik, bahkan menghabiskan hari-harinya di atas tempat tidur. Bukankah kesehatan yang kita rasakan hari ini adalah nikmat yang tidak dapat dibeli dengan harta sebanyak apa pun?
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!