KHUTBAH JUMAT | Ahlak yang Memudar di Era Digital
Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim," (Qs. Al-Hujurat: 11).
Jamaah salat Jumat yang dimuliakan Allah,
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsirnya Marah Labid juz II hal 438 menjelaskan bahwa ayat di atas turun untuk menegur beberapa kelompok atau individu pada masa kenabian yang suka menghina dan mencaci maki orang lain dengan sebutan yang buruk.
Ayat ini juga merupakan penegasan dari Allah ta'ala kepada umat manusia agar tidak saling menghina satu sama lain. Ia menjelaskan bahwa kandungan surat Al-Hujurat ayat 11 ini mengajak kepada umat manusia agar menjaga lisannya dalam berucap sesuatu kepada sesama. Syekh Nawawi berkata dalam tafsirnya:
وَمَعْنَى الْآيَةِ: لَا تَحْتَقِرُوْا إِخْوَانَكُمْ وَلَا تَسْتَصْغِرُوْهُمْ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ تَعْلِيْلٌ لِلنَّهْيِ، أَيْ عَسَى أَنْ يَكُوْنَ الْمَسْخُوْرُ مِنْهُمْ خَيْرًا عِنْدَ الله تَعَالَى مِنَ السَّاخِرِيْنَ، وَلَا نِساءٌ مِنْ نِساءٍ
Artinya, “Kandungan ayat di atas memiliki makna: Janganlah kalian menghina dan mengerdilkan saudara-saudara kalian sebab boleh jadi mereka yang dihina lebih baik di sisi Allah daripada yang menghina. Hal ini berlaku juga bagi kaum perempuan.”
Jamaah salat Jumat yang dimuliakan Allah,
Dalam praktiknya, larangan menghina orang lain di atas mencakup juga terkait larangan menghina seseorang yang telah tobat dari dosa yang telah ia perbuat. Islam sangat melarang hal tersebut bahkan dalam satu riwayat disebutkan bahwa menghina seseorang yang telah tobat dari dosa yang telah ia perbuat bisa menjadikan orang yang menghinanya melakukan dosa yang sama. Sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits Turmudzi dari jalur Muadz bin Jabal berikut:
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!