Kekeringan Landa Tasikmalaya, 850 KK Terdampak Krisis Air
Ilustrasi./visi.news/ist.
VISI.NEWS - Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mulai terdampak kekeringan pada awal musim kemarau 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa fenomena kekeringan mulai meluas di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Desa Pedangkamulyan, Kecamatan Bojonggambir, yang mengalami dampak cukup signifikan.
Hasil kaji cepat tim di lapangan menunjukkan bahwa penurunan volume sumber air telah memicu krisis air bersih yang berdampak langsung pada aktivitas domestik masyarakat. Kondisi ini membuat ratusan warga kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Pusat Pengendalian Operasi BNPB mencatat sedikitnya 850 kepala keluarga (KK) di Desa Pedangkamulyan mengalami kesulitan mendapatkan akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Situasi tersebut terjadi akibat menyusutnya sumber air yang selama ini menjadi andalan warga, sehingga berdampak pada kebutuhan rumah tangga dan berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat jika tidak segera ditangani.
Menanggapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya telah mengerahkan tim reaksi cepat ke lokasi terdampak. Selain itu, distribusi air bersih dilakukan secara berkala sejak Rabu (1/7/2026) untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama masa krisis berlangsung.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah menetapkan status siaga darurat untuk memperkuat penanganan di lapangan. Ia menyampaikan bahwa kebijakan tersebut diambil sebagai respons atas meningkatnya kejadian kekeringan di wilayah Jawa Barat.
"Dampak kekeringan ini telah mendapat atensi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang merespons dengan menetapkan status Siaga Darurat bencana kekeringan dan karhutla di wilayah Jawa Barat," kata Abdul Muhari dalam keterangannya dikutip, Kamis (2/7/2026).
Status siaga darurat tersebut mulai diberlakukan sejak 1 Juli 2026 dan menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mengoptimalkan pengerahan sumber daya dalam penanganan kekeringan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!