Jelang Muktamar NU, Diskusi Pesantren Hasilkan Sembilan Seruan Moral
Suasana diskusi forum 'Jagongan Jelang Muktamar NU' di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Al Hamid, Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang, Rabu (8/7/2026) malam./visi.news/ist.
Sementara itu, KH Abdullah Sam berharap pesantren tetap menjaga tradisi yang selama ini diwariskan, termasuk tradisi ruhani.
”Kita dijaga oleh wirid-wirid para kiai, santri dan jama’ah di kampung-kampung, tidak ada rasa khawatir sama sekali karena Allah SWT akan menjaga kita,” katanya.
Menurutnya, pesantren memiliki peran strategis dalam perjalanan bangsa, termasuk saat masa perjuangan kemerdekaan ketika para putra kiai berkoordinasi melawan penjajahan.
Ia juga berharap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tetap menjadi lembaga yang independen dan tidak berada di bawah pengaruh pihak eksternal, termasuk pemerintah.
”Misa calon ketua umum jangan minta restu kepada tukang sirkus, ya kalau tukang sirkus itu ngasih makan, nanti kan mau gak mau mengendalikan si tulang sirkus tersebut,” katanya memberi analogi.
Dalam kesempatan yang sama, M Yasin Arief menilai pesantren perlu membangun narasi positif di tengah sorotan yang belakangan muncul terhadap citra pesantren. Menurutnya, penguatan kapasitas santri juga perlu diarahkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Menurut saya ada tiga yang penting untuk di dalami di pesantren, yakni teknologi, sains dan cara berpikir,” pungkasnya.
Irham Thoriq juga menyoroti pentingnya kesiapan pesantren menghadapi perubahan sosial menuju era industri. Menurutnya, pesantren perlu membekali santri dengan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!