Jelang Muktamar NU, Diskusi Pesantren Hasilkan Sembilan Seruan Moral
Suasana diskusi forum 'Jagongan Jelang Muktamar NU' di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Al Hamid, Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang, Rabu (8/7/2026) malam./visi.news/ist.
VISI.NEWS - Sejumlah pengasuh pondok pesantren, akademisi, aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU), santri, dan mahasiswa berkumpul dalam forum 'Jagongan Jelang Muktamar NU' di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Al Hamid, Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang, Rabu (8/7/2026) malam.
Diskusi tersebut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Al Hamid KH Atho’ Lukman Hakim, Pengasuh Pesantren Rakyat yang juga Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Malang serta Sekretaris Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kabupaten Malang KH Abdullah Sam, Bendahara PC GP Ansor Kabupaten Malang Syahrul Karim, CEO Tugu Media Group yang juga Wakil Ketua PC GP Ansor Kota Malang Irham Thoriq.
Selain itu, hadir juga Wakil Ketua PC GP Ansor Kabupaten Malang Alauddin Alex, CEO Sabda Academy M Yasin Arief, Ketua Jaringan Nahdliyin Muda (JNM) M Mahrus, Pengasuh Pondok Pesantren Dzunuroin Arrofiqi Pakis Gus Arif Billah, Pengasuh Pesantren Rakyat Takhosus Gus Shidiq Zamzam, perwakilan ISNU Kabupaten Malang Pak Hasyim, Perwakilan Gusdurian Erik Priyanto, Dosen Universitas Al Qolam Nurul Azizah, Konsultan Hukum Khoirul dan sejumlah peserta diskusi lain dari unsur dosen, santri dan mahasiswa.
Dalam paparan pembuka, KH Atho’ Lukman Hakim menekankan pentingnya kader dan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) untuk kembali meluruskan niat dalam menjalankan pengabdian.
“Jadi kita harus menempatkan Allah SWT pada posisi central, singkatnya bagaimana segala tindak kita membuat Allah SWT tidak marah kepada kita dan ridho kepada kita,” kata Atho’ Lukman Hakim dalam keterangannya yang diterima VISI.NEWS, Kamis (9/7/2026).
Ia juga menegaskan bahwa pesantren memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar lembaga pendidikan.
”Pesantren bukan hanya tempat mencari ilmu, tapi pesantren adalah cara berfikir, bersikap, dan bertindak. Pesantren adalah budaya yang adiluhung. Jadi pesantren selalu punya cara merespons keadaan ekonomi dan budaya kita sehari-hari,” imbuhnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!