Jejak Peradaban Solo, dari Masjid Tua hingga Keraton Bersejarah
- Setelah mengunjungi Masjid Laweyan yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Kota Solo dan memiliki keterkaitan erat dengan tokoh penyebar Islam Ki Ageng Henis, Tim Gowes VISI.NEWS yang terdiri dari Aep S. Abdullah, Edi Sudjono, dan Untung Sumarsono melanjutkan perjalanan napak tilas sejarah menyusuri berbagai situs penting yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Surakarta.
VISI.NEWS | SOLO — Perjalanan hari pertama ini menjadi sebuah ekspedisi sejarah yang mempertemukan jejak dakwah Islam, perkembangan kerajaan Jawa, hingga peninggalan kolonial Belanda dalam satu lintasan yang saling terhubung. Dari masjid kuno, keraton, hingga benteng pertahanan, seluruhnya membentuk mozaik sejarah yang menjadikan Solo sebagai salah satu kota budaya terpenting di Indonesia.
Dari Laweyan, Menelusuri Akar Islam di Tanah Jawa
Perjalanan diawali dari kawasan Laweyan yang sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai pusat perdagangan sekaligus penyebaran Islam. Di sinilah berdiri Masjid Laweyan yang dipercaya telah ada sejak pertengahan abad ke-16 dan berkaitan dengan Ki Ageng Henis, leluhur raja-raja Mataram Islam.
Masjid tua tersebut bukan sekadar tempat ibadah. Bangunan ini menjadi simbol awal berkembangnya komunitas Islam di wilayah Solo sebelum lahirnya Keraton Surakarta maupun Pura Mangkunegaran. Di sekitar kawasan ini pula berkembang perkampungan saudagar batik yang kelak menjadikan Laweyan terkenal hingga mancanegara.
Suasana masjid yang tenang, arsitektur khas Jawa, serta keberadaan makam tokoh-tokoh penyebar Islam memberikan kesan mendalam bagi Tim Gowes VISI.NEWS. Seolah mengajak pengunjung kembali pada masa ketika dakwah dilakukan dengan pendekatan budaya dan perdagangan.
Masjid Al-Wustho dan Keagungan Mangkunegaran
Dari Laweyan, perjalanan berlanjut menuju Masjid Al-Wustho Mangkunegaran yang berada di sisi barat Pura Mangkunegaran.
Masjid ini merupakan masjid kerajaan Mangkunegaran yang memiliki sejarah panjang. Awalnya didirikan oleh Mangkunegara I dan kemudian dipindahkan ke lokasi sekarang pada abad ke-19 sebelum direnovasi dengan sentuhan arsitektur Jawa, Arab, dan Eropa oleh arsitek Belanda Thomas Karsten. Hingga kini Masjid Al-Wustho tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Solo.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!