Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Ahli Gizi Ungkap Pilihan Sarapan yang Bantu Tingkatkan Energi Tubuh 5 Aug 2026 Ekspedisi 22 Hari Ungkap Keanekaragaman Laut Dalam di Samudra Hindia 5 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia vs Singapura, Penentu Tiket Semifinal AFF 2026 5 Aug 2026 Kesal Dimarahi Orang Tua, Pemuda di Bandung Bakar Rumah, Tiga Bangunan Hangus 5 Aug 2026 Jadwal Final Piala Presiden 2026: Persib vs Persebaya di Bali 5 Aug 2026 Dua Skenario Gagalkan Malaysia ke Semifinal Piala AFF 2026 5 Aug 2026 Koalisi Pecinta Satwa Desak RI Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang 5 Aug 2026 Thailand Kian Dekat ke Semifinal, Myanmar Pesta Tujuh Gol di ASEAN Hyundai Cup 2026 5 Aug 2026 MORROW Buka Pusat Kesehatan Preventif Terbesar di Singapura 5 Aug 2026 BOI Thailand Genap 60 Tahun, Investasi Asing Tembus Rekor Baru 5 Aug 2026 Ahli Gizi Ungkap Pilihan Sarapan yang Bantu Tingkatkan Energi Tubuh 5 Aug 2026 Ekspedisi 22 Hari Ungkap Keanekaragaman Laut Dalam di Samudra Hindia 5 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia vs Singapura, Penentu Tiket Semifinal AFF 2026 5 Aug 2026 Kesal Dimarahi Orang Tua, Pemuda di Bandung Bakar Rumah, Tiga Bangunan Hangus 5 Aug 2026 Jadwal Final Piala Presiden 2026: Persib vs Persebaya di Bali 5 Aug 2026 Dua Skenario Gagalkan Malaysia ke Semifinal Piala AFF 2026 5 Aug 2026

Jejak Peradaban Solo, dari Masjid Tua hingga Keraton Bersejarah

ED
Rabu, 17 Juni 2026 | 21:28 WIB
Bagikan
/
  • Setelah mengunjungi Masjid Laweyan yang diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Kota Solo dan memiliki keterkaitan erat dengan tokoh penyebar Islam Ki Ageng Henis, Tim Gowes VISI.NEWS yang terdiri dari Aep S. Abdullah, Edi Sudjono, dan Untung Sumarsono melanjutkan perjalanan napak tilas sejarah menyusuri berbagai situs penting yang menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Surakarta.

VISI.NEWS | SOLO — Perjalanan hari pertama ini menjadi sebuah ekspedisi sejarah yang mempertemukan jejak dakwah Islam, perkembangan kerajaan Jawa, hingga peninggalan kolonial Belanda dalam satu lintasan yang saling terhubung. Dari masjid kuno, keraton, hingga benteng pertahanan, seluruhnya membentuk mozaik sejarah yang menjadikan Solo sebagai salah satu kota budaya terpenting di Indonesia.

Dari Laweyan, Menelusuri Akar Islam di Tanah Jawa

Perjalanan diawali dari kawasan Laweyan yang sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai pusat perdagangan sekaligus penyebaran Islam. Di sinilah berdiri Masjid Laweyan yang dipercaya telah ada sejak pertengahan abad ke-16 dan berkaitan dengan Ki Ageng Henis, leluhur raja-raja Mataram Islam. 

Masjid tua tersebut bukan sekadar tempat ibadah. Bangunan ini menjadi simbol awal berkembangnya komunitas Islam di wilayah Solo sebelum lahirnya Keraton Surakarta maupun Pura Mangkunegaran. Di sekitar kawasan ini pula berkembang perkampungan saudagar batik yang kelak menjadikan Laweyan terkenal hingga mancanegara.

Suasana masjid yang tenang, arsitektur khas Jawa, serta keberadaan makam tokoh-tokoh penyebar Islam memberikan kesan mendalam bagi Tim Gowes VISI.NEWS. Seolah mengajak pengunjung kembali pada masa ketika dakwah dilakukan dengan pendekatan budaya dan perdagangan.

Masjid Al-Wustho dan Keagungan Mangkunegaran

Dari Laweyan, perjalanan berlanjut menuju Masjid Al-Wustho Mangkunegaran yang berada di sisi barat Pura Mangkunegaran.

Masjid ini merupakan masjid kerajaan Mangkunegaran yang memiliki sejarah panjang. Awalnya didirikan oleh Mangkunegara I dan kemudian dipindahkan ke lokasi sekarang pada abad ke-19 sebelum direnovasi dengan sentuhan arsitektur Jawa, Arab, dan Eropa oleh arsitek Belanda Thomas Karsten. Hingga kini Masjid Al-Wustho tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Solo.

Arsitekturnya menampilkan perpaduan budaya yang unik. Atap tajug khas Jawa berpadu dengan menara bergaya Timur Tengah dan sejumlah ornamen Eropa. Keberadaan masjid ini menunjukkan bagaimana Islam berkembang secara harmonis dengan budaya Jawa tanpa kehilangan identitasnya.

Menyaksikan Kemegahan Pura Mangkunegaran

Tak jauh dari masjid berdiri Pura Mangkunegaran, istana resmi Kadipaten Mangkunegaran yang didirikan pada tahun 1757.

Kompleks ini menjadi salah satu pusat kebudayaan Jawa yang masih aktif hingga kini. Pendapa Ageng yang megah, koleksi pusaka, gamelan kuno, serta berbagai artefak sejarah menggambarkan kejayaan Mangkunegaran sebagai kerajaan yang memiliki peran penting dalam perjalanan politik Jawa.

Di lingkungan pura inilah tradisi, seni tari, karawitan, dan sastra Jawa terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

Singgah di Masjid Agung Solo

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Masjid Agung Surakarta yang berdiri di kawasan Keraton Kasunanan.

Masjid yang dibangun setelah perpindahan pusat Kerajaan Mataram Islam dari Kartasura ke Surakarta pada 1745 ini merupakan salah satu ikon penting Kota Solo. Masjid Agung menjadi bagian dari konsep tata ruang kerajaan Jawa yang menyatukan keraton, alun-alun, pasar, dan masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat.

Bangunan masjid menampilkan arsitektur tradisional Jawa dengan atap bertingkat dan serambi luas. Hingga saat ini, Masjid Agung masih menjadi pusat berbagai kegiatan keagamaan, termasuk tradisi Sekaten yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Menapak Jejak Joko Tingkir di Keraton Pajang

Perjalanan sejarah kemudian membawa rombongan menuju kawasan bekas Keraton Pajang yang terkait erat dengan sosok Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir.

Kerajaan Pajang memiliki posisi penting dalam sejarah Jawa karena menjadi jembatan antara Kesultanan Demak dan lahirnya Kerajaan Mataram Islam. Meski bangunan keratonnya tidak lagi utuh seperti dahulu, kawasan ini tetap menyimpan nilai historis yang sangat besar.

Di tempat inilah lahir berbagai dinamika politik yang kemudian membentuk sejarah kerajaan-kerajaan besar di Pulau Jawa.

Benteng Vastenburg, Saksi Era Kolonial

Tak lengkap membahas sejarah Solo tanpa mengunjungi Benteng Vastenburg.

Benteng peninggalan kolonial Belanda ini dibangun pada abad ke-18 sebagai pusat pertahanan dan pengawasan terhadap aktivitas politik Keraton Surakarta.

Bangunan bergaya Eropa dengan tembok-tembok kokoh tersebut masih berdiri hingga sekarang. Meski beberapa bagian telah mengalami perubahan, Benteng Vastenburg tetap menjadi salah satu landmark bersejarah yang memperlihatkan bagaimana pengaruh kolonial pernah begitu kuat di tanah Jawa.

Menutup Perjalanan di Keraton Kasunanan

Destinasi terakhir hari pertama adalah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Keraton yang didirikan oleh Pakubuwana II pada tahun 1745 ini merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam setelah perpindahan dari Kartasura. Keraton menyimpan beragam koleksi bersejarah mulai dari kereta kencana, pusaka kerajaan, manuskrip kuno, hingga benda-benda peninggalan hubungan diplomatik dengan berbagai kerajaan dunia.

Memasuki kawasan keraton, Tim Gowes VISI.NEWS seakan diajak menembus lorong waktu, menyaksikan bagaimana peradaban Jawa dibangun melalui perpaduan nilai spiritual, budaya, politik, dan kearifan lokal yang terus bertahan hingga sekarang.

Merangkai Kepingan Sejarah

Perjalanan sehari menyusuri Masjid Laweyan, Masjid Al-Wustho, Pura Mangkunegaran, Masjid Agung Solo, Keraton Pajang, Benteng Vastenburg, hingga Keraton Kasunanan bukan sekadar wisata sejarah. 

Di sela rehat, tim gowes juga sempat mengunjungi dan menikmati makanan favorit Kota Solo yang viral di media sosial (medsos) Timlo Solo di Jalan Jend. Urip Sumoharjo No.94, Purwodiningratan, Kec. Jebres, dan Baso Kadipolo di Jalan Jend. Urip Sumoharjo No.94 (depan RS Muhammadiyah Surakarta), Purwodiningratan, Kec. Jebres, Kota Surakarta. 

Setiap situs menghadirkan cerita tentang perjuangan para ulama, raja, bangsawan, saudagar, dan rakyat yang bersama-sama membentuk wajah Solo hari ini.

Bagi Tim Gowes VISI.NEWS, napak tilas ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya kisah masa lalu. Sejarah adalah cermin yang membantu manusia memahami jati diri, menghargai warisan leluhur, dan menata masa depan dengan lebih bijaksana.

Sebagaimana pesan Bung Karno, "Jas Merah" — jangan sekali-kali melupakan sejarah. Di Kota Solo, pesan itu terasa hidup di setiap batu, dinding, dan halaman situs-situs bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Napak tilas yang didukung Komite Sepeda Indonesia (KSI) Kabupaten Bandung, Kakanwil Ditjen Pemasyarakatan Sumatera Barat, PT. Pupuk Kujang, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kabupaten Bandung, Diskominfo Kabupaten Bandung, Bapenda, PT. BPR Kerta Raharja, dan Perumda Tirta Raharja ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Di balik setiap batu bata, lorong, dan bangunan kuno terdapat nilai-nilai perjuangan, toleransi, serta kebijaksanaan yang tetap relevan bagi kehidupan masa kini.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.