ISBI Bandung Gugat Relevansi Interkulturalitas Teater
Pada kesempatan yang sama, Dr. Retno Dwimarwati memaparkan sejumlah karya interkultural yang berangkat dari penafsiran ulang tradisi dan sejarah budaya lokal. Beberapa karya yang dipresentasikan antara lain Puseur Sancang Pangirutan, Ludira Kasmaran, serta Niskala Gudha.
Khusus dalam karya Niskala Gudha, Retno mengangkat reinterpretasi kisah Siti Samboja yang berhasil merebut kembali Kerajaan Galuh dari penguasa Bajo atau Kala Samudra. Karya tersebut memadukan berbagai elemen seni seperti Ronggeng Gunung, wayang golek, musik tradisional, gerak teatrikal, serta unsur visual lainnya dalam sebuah pertunjukan yang menghubungkan tradisi dengan teknologi digital.
Menariknya, pertunjukan tersebut tidak hanya disaksikan langsung oleh penonton di Parigi, Kabupaten Ciamis, tetapi juga ditayangkan melalui siaran langsung di platform digital sehingga dapat diakses audiens yang lebih luas. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana interkulturalitas kini berkembang seiring hadirnya teknologi dan media baru dalam dunia seni pertunjukan.
Selain sesi pertama, seminar nasional juga dilanjutkan pada sesi kedua yang berlangsung pukul 13.15 hingga 15.30 WIB. Sejumlah akademisi dan praktisi teater lainnya turut menjadi pembicara, di antaranya Erwin Sirajuddin, S.Sn., M.Sn., Dr. Dede Pramayoza, S.Sn., M.Sn., dan Tirta Nugraha Pratama, S.Sn.
Melalui forum tersebut, ISBI Bandung tidak hanya menghadirkan diskusi akademik mengenai teori interkulturalitas, tetapi juga membuka ruang perjumpaan berbagai gagasan, pengalaman kreatif, dan perspektif budaya. Seminar ini menjadi momentum penting untuk meninjau kembali posisi interkulturalitas dalam perkembangan teater kontemporer yang semakin dipengaruhi globalisasi, teknologi, dan dinamika identitas budaya.
Perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa interkulturalitas masih menjadi isu penting dalam dunia teater. Namun, praktiknya kini dituntut lebih sensitif terhadap konteks budaya, etika representasi, dan relasi kuasa agar dialog antarbudaya yang dibangun melalui seni pertunjukan dapat berlangsung secara lebih setara dan bermakna.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!