ISBI Bandung Gugat Relevansi Interkulturalitas Teater

ED
Selasa, 15 September 2026 | 12:43 WIB
Bagikan
/

VISI.NEWS – Apakah interkulturalitas masih menjadi gagasan yang mempesona dalam dunia teater, atau justru telah menghadapi berbagai persoalan konseptual dan etis yang menuntut peninjauan ulang? Pertanyaan itulah yang menjadi fokus Seminar Nasional bertajuk “Interkulturalitas: Masih Mempesona atau Sudah Ditinggalkan?” yang digelar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Selasa (15/9/2026).

Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Rektor ISBI Bandung, Dr. Ismet Ruchimat, tersebut menjadi ruang refleksi dan diskusi kritis mengenai perjalanan panjang konsep interkulturalitas dalam praktik teater. Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian program “Reenchantment of Interculturalizing Theatre Traditions” sekaligus forum berbagi gagasan dan hasil kajian dari para peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya, Ismet menegaskan pentingnya ruang akademik yang mampu mengkaji ulang berbagai konsep yang selama ini menjadi pijakan dalam perkembangan seni pertunjukan. Menurutnya, perubahan zaman menuntut dunia teater untuk terus mengevaluasi relevansi teori dan praktik yang berkembang.

Sesi pertama seminar berlangsung selama lebih dari dua jam dan menghadirkan empat narasumber, yakni Yusef Muldiyana, Dr. Retno Dwimarwati, Prof. Dr. Dra. Yudiaryani, M.A., serta Fathul A. Husein, S.Sn., M.Sn. Acara dipandu oleh Tatang Abdullah dan diikuti akademisi, seniman, mahasiswa, serta praktisi teater dari berbagai daerah.

Salah satu pemaparan yang memantik diskusi datang dari Fathul A. Husein. Ia mengulas perkembangan pemikiran interkulturalisme dalam teater sekaligus berbagai kritik yang muncul terhadap konsep tersebut. Menurutnya, praktik teater interkultural tidak bisa dilepaskan dari persoalan dekontekstualisasi, apropriasi budaya, hingga perbedaan cara pandang mengenai universalitas budaya yang kerap memunculkan ketidakcocokan, sengketa, dan perdebatan.

Fathul menilai bahwa pertemuan berbagai tradisi budaya dalam sebuah pertunjukan tidak semata-mata berbicara mengenai pertukaran artistik. Di baliknya terdapat konteks sosial, identitas budaya, dan relasi kuasa yang perlu dibaca secara kritis. Pertanyaan mengenai siapa yang berhak mengambil, menafsirkan, dan merepresentasikan unsur budaya tertentu menjadi isu yang terus mengemuka dalam praktik teater global.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.