ISBI Bandung Gugat Relevansi Interkulturalitas Teater
VISI.NEWS – Apakah interkulturalitas masih menjadi gagasan yang mempesona dalam dunia teater, atau justru telah menghadapi berbagai persoalan konseptual dan etis yang menuntut peninjauan ulang? Pertanyaan itulah yang menjadi fokus Seminar Nasional bertajuk “Interkulturalitas: Masih Mempesona atau Sudah Ditinggalkan?” yang digelar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Rektor ISBI Bandung, Dr. Ismet Ruchimat, tersebut menjadi ruang refleksi dan diskusi kritis mengenai perjalanan panjang konsep interkulturalitas dalam praktik teater. Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian program “Reenchantment of Interculturalizing Theatre Traditions” sekaligus forum berbagi gagasan dan hasil kajian dari para peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Dalam sambutannya, Ismet menegaskan pentingnya ruang akademik yang mampu mengkaji ulang berbagai konsep yang selama ini menjadi pijakan dalam perkembangan seni pertunjukan. Menurutnya, perubahan zaman menuntut dunia teater untuk terus mengevaluasi relevansi teori dan praktik yang berkembang.
Sesi pertama seminar berlangsung selama lebih dari dua jam dan menghadirkan empat narasumber, yakni Yusef Muldiyana, Dr. Retno Dwimarwati, Prof. Dr. Dra. Yudiaryani, M.A., serta Fathul A. Husein, S.Sn., M.Sn. Acara dipandu oleh Tatang Abdullah dan diikuti akademisi, seniman, mahasiswa, serta praktisi teater dari berbagai daerah.
Salah satu pemaparan yang memantik diskusi datang dari Fathul A. Husein. Ia mengulas perkembangan pemikiran interkulturalisme dalam teater sekaligus berbagai kritik yang muncul terhadap konsep tersebut. Menurutnya, praktik teater interkultural tidak bisa dilepaskan dari persoalan dekontekstualisasi, apropriasi budaya, hingga perbedaan cara pandang mengenai universalitas budaya yang kerap memunculkan ketidakcocokan, sengketa, dan perdebatan.
Fathul menilai bahwa pertemuan berbagai tradisi budaya dalam sebuah pertunjukan tidak semata-mata berbicara mengenai pertukaran artistik. Di baliknya terdapat konteks sosial, identitas budaya, dan relasi kuasa yang perlu dibaca secara kritis. Pertanyaan mengenai siapa yang berhak mengambil, menafsirkan, dan merepresentasikan unsur budaya tertentu menjadi isu yang terus mengemuka dalam praktik teater global.
Persoalan tersebut semakin relevan ketika banyak unsur budaya Timur yang menjadi sumber inspirasi bagi seniman Barat. Dalam sejumlah kasus, unsur-unsur itu kemudian berkembang dan dipersepsikan sebagai bagian dari tradisi teater Barat tanpa banyak mengingat akar budayanya. Kondisi inilah yang memunculkan kritik mengenai praktik peminjaman hingga apropriasi budaya dalam seni pertunjukan.
Pandangan menarik juga disampaikan Prof. Yudiaryani dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Ia menegaskan bahwa seorang aktor teater harus memiliki sikap kritis dan militansi intelektual karena akan berhadapan dengan persoalan kehidupan yang semakin kompleks.
“Seorang aktor teater harus kritis dan militan, karena para aktor teater akan berhadapan dengan dunia yang sangat kompleks permasalahannya,” ujarnya.
Menurut Yudiaryani, teater merupakan seni yang bersifat sintesis dan kompleks sehingga membutuhkan spesialisasi yang semakin kuat. Di era perkembangan seni pertunjukan modern, seorang aktor tidak lagi dituntut menguasai seluruh aspek secara bersamaan, melainkan perlu memperdalam bidang tertentu agar mampu menghasilkan karya yang lebih berkualitas.
Ia juga menyoroti bagaimana banyak konsep ketimuran dalam tradisi teater yang kemudian diadaptasi oleh seniman Barat. Baginya, panggung teater dalam banyak tradisi Timur tidak sekadar ruang pertunjukan, melainkan memiliki nilai spiritual yang menyerupai altar suci dengan berbagai proses dan ritual yang menyertainya.
Sementara itu, praktisi teater Yusef Muldiyana mempresentasikan karya Pabrik Begal yang dibawakan Teater Laskar Panggung. Karya tersebut mengangkat fenomena sosial masyarakat melalui pendekatan komedi satir yang memadukan idiom teater modern dan klasik.
Seperti karya-karya Yusef lainnya bersama Laskar Panggung Bandung, pertunjukan tersebut merefleksikan realitas kehidupan masyarakat kontemporer dengan bahasa artistik yang kritis, namun tetap komunikatif dan mudah diterima penonton. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana teater dapat menjadi medium refleksi sosial sekaligus sarana hiburan yang efektif.
Pada kesempatan yang sama, Dr. Retno Dwimarwati memaparkan sejumlah karya interkultural yang berangkat dari penafsiran ulang tradisi dan sejarah budaya lokal. Beberapa karya yang dipresentasikan antara lain Puseur Sancang Pangirutan, Ludira Kasmaran, serta Niskala Gudha.
Khusus dalam karya Niskala Gudha, Retno mengangkat reinterpretasi kisah Siti Samboja yang berhasil merebut kembali Kerajaan Galuh dari penguasa Bajo atau Kala Samudra. Karya tersebut memadukan berbagai elemen seni seperti Ronggeng Gunung, wayang golek, musik tradisional, gerak teatrikal, serta unsur visual lainnya dalam sebuah pertunjukan yang menghubungkan tradisi dengan teknologi digital.
Menariknya, pertunjukan tersebut tidak hanya disaksikan langsung oleh penonton di Parigi, Kabupaten Ciamis, tetapi juga ditayangkan melalui siaran langsung di platform digital sehingga dapat diakses audiens yang lebih luas. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana interkulturalitas kini berkembang seiring hadirnya teknologi dan media baru dalam dunia seni pertunjukan.
Selain sesi pertama, seminar nasional juga dilanjutkan pada sesi kedua yang berlangsung pukul 13.15 hingga 15.30 WIB. Sejumlah akademisi dan praktisi teater lainnya turut menjadi pembicara, di antaranya Erwin Sirajuddin, S.Sn., M.Sn., Dr. Dede Pramayoza, S.Sn., M.Sn., dan Tirta Nugraha Pratama, S.Sn.
Melalui forum tersebut, ISBI Bandung tidak hanya menghadirkan diskusi akademik mengenai teori interkulturalitas, tetapi juga membuka ruang perjumpaan berbagai gagasan, pengalaman kreatif, dan perspektif budaya. Seminar ini menjadi momentum penting untuk meninjau kembali posisi interkulturalitas dalam perkembangan teater kontemporer yang semakin dipengaruhi globalisasi, teknologi, dan dinamika identitas budaya.
Perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa interkulturalitas masih menjadi isu penting dalam dunia teater. Namun, praktiknya kini dituntut lebih sensitif terhadap konteks budaya, etika representasi, dan relasi kuasa agar dialog antarbudaya yang dibangun melalui seni pertunjukan dapat berlangsung secara lebih setara dan bermakna.
@bambang melga
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!