Ibu Iis (61), "Pak Jokowi tolong anak saya pak. Tolong pak..."
Dari situ, Wildan sering menghubungi tapi di bawah ancaman untuk meminta segera ditransfer uang 100 juta. "Kami dari mana bisa menyediakan uang sebesar itu. Kami bukan orang berada," ungkap Yulia seraya menyebutkan setiap menghubungi keluarganya di Bandung diberi waktu dua jam, uang harus ada, kalau tidak di siksa.
Terakhir menghubunginya pada Kamis (25/1/2024), posisinya sudah dijual lagi ke sindikat lain masih di Myanmar. Kali ini permintaan tebusannya naik jadi Rp 150 juta dan mengirim tiga orang Indonesia pengganti Wildan. "Ancamannya, kalau tidak segera di transfer akan dimasukkan ke penjara di bawah tanah. Dan sejak itu, sampai hari ini (Jumat, 2 Pebruari 2024), tidak ada lagi WA dari kakak saya itu," ungkap Yulia.
Yulia mengaku khawatir dengan kondisi kakaknya yang diperlakukan secara tidak manusiawi. Ia mengatakan, Wildan harus bekerja tanpa libur selama 20 jam sehari. Ia juga tidak tahu apakah kakaknya mendapat makanan yang cukup dan layak atau tidak.
Yulia berharap, pemerintah dapat segera bertindak dan membantu pemulangan kakaknya. Ia juga meminta agar pihak berwenang menindak tegas agen PMI yang menipu dan menyelundupkan pekerja Indonesia ke luar negeri.
"Kami mohon bantuan Pak Jokowi, Pak Menlu, Pak Kapolri, Pak Panglima, siapa pun yang bisa menolong kami. Kami hanya ingin kakak saya pulang dengan selamat dan sehat. Kami juga ingin agar agen PMI yang menipu itu ditangkap dan dihukum seberat-beratnya," pinta Yulia.
@mpa
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!