Ibu Iis (61), "Pak Jokowi tolong anak saya pak. Tolong pak..."
- Ibu Iis (61) di Ngamprah ini minta Presiden Jokowi menolong anaknya yang lebih setahun diduga disekap di Myanmar.
VISI.NEWS | BANDUNG - Seorang ibu berusia 61 tahun di Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Provinsi Jawa Barat, memohon bantuan kepada Presiden Joko Widodo untuk menyelamatkan anaknya yang diduga menjadi korban perdagangan manusia di Myanmar. Anaknya bernama Wildan Rohdiawan, sejak setahun lalu tidak bisa pulang ke tanah air.
Iis Rohayati, ibu Wildan, menangis tersedu-sedu saat menceritakan nasib anaknya yang mengenaskan. Wildan awalnya ingin bekerja ke Korea Selatan (Korsel), namun karena diduga ditipu oleh salah satu agen pengirim pekerja migran Indonesia (PMI), ia malah diselundupkan ke Myanmar dan disekap oleh sindikat perdagangan manusia. Sindikat tersebut meminta tebusan sebesar 150 juta rupiah dan tiga orang pekerja pengganti untuk melepaskan Wildan.
"Pak Jokowi tolong anak saya. Tolong pak...Anak saya sudah setahun disekap dan tidak bisa pulang di Myanmar. Saya sudah minta bantuan ke mana-mana tidak ada yang bisa menolong. Saya orang miskin, dari mana uang sebesar itu. Tolonglah kami Bapak Jokowi," ujar Iis sambil terisak di rumahnya, di Kp. Bantargedang RT 03, RW 09 No. 22, Desa Mekarsari, Kecamatan Ngamprah, Jumat (2/2/2024).
Wildan anaknya Iis, lahir di Bandung, pada 11 Oktiber 1987, lulusan sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) cukup terkenal di Kota Bandung. Anaknya pintar, namun pendiam. Hobinya baca buku, sehingga ia bisa berlama-lama di kamarnya. Dan, tak pernah membuat repot orang tua karena kuliahnya pun hasil jerih payahnya sendiri.
Menurut adik Wildan, Yulia Rosiana, guru, seusai di wisuda ia melamar jadi pegawai negeri sipil (PNS) tapi gagal, sehingga akhirnya menjadi guru honorer.
Ketika berkomunikasi dengan temannya yang baru pulang dari Korsel, Wildan antusias untuk bisa bekerja di negeri Ginseng tersebut. "Sampai oleh temannya itu diarahkan ke Sukabumi untuk ikut latihan sebagai calon pekerja migran dan mendapatkan sertifikat dari BP2MI. Kemudian menghubungi agen yang mengirimkan tenaga kerja ke Korsel, dan total biaya yang sudah dikeluarkan untuk agen tersebut lebih Rp 20 juta," ungkap Yulia.
Lapor Polisi
Setelah tahu kakaknya jadi korban perdagangan orang, Yulia yang diminta bantuan oleh kakaknya itu, segera menempuh berbagai upaya untuk bisa menyelamatkan kakaknya yang sekarang dikuasai jaringan perdagangan orang. Ia sudah melapor ke Polda Jabar, Bareskrim, Kemenlu, hingga BP2MI, namun belum ada hasil yang memuaskan. Ia hanya diminta bersabar dan bersabar, padahal semua bukti sudah ia serahkan. Ia juga didampingi oleh relawan pengacara yang terus berusaha sampai sekarang.
"Semuanya (upaya) itu sudah dilakukan pokoknya. Bukti-bukti sudah diserahkan termasuk permintaan tebusan uang, sampai akhirnya saya memberanikan diri melaporkan ke polisi, tapi sampai sekarang tidak ada hasilnya," ungkap Yulia.
Yulia mengatakan, sejak tiba di Thailand, komunikasi dengan Wildan masih lancar. Namun, sejak Maret 2023, komunikasi terputus dan ia tidak tahu keberadaan kakaknya. Hingga akhirnya, pada November 2023, Wildan menghubungi ibunya dan mengatakan bahwa ia harus membayar 150 juta rupiah ke perusahaan untuk bisa pulang. Posisinya sendiri sudah ada di Myanmar, semuanya tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan agen pengirim PMI yang katanya dipekerjakan di perusahaan gadget di Thailand.
"Suami saya cari tahu lah, banyak yang diarahkan dari Thailand ternyata tidak ada di Thailand, tapi jadi korban trafficking di Myanmar. Jadi banyak konten kreator yang bukan itu membahas masalah perdagangan orang Indonesia di Myanmar," kata Yulia.
Yulia menambahkan, ia mendapat informasi dari akun YouTube di Indonesia yang mengungkap modus perdagangan manusia di Myanmar. Sindikat tersebut meminta uang tebusan sebesar 100 juta rupiah dan tiga orang pekerja pengganti untuk melepaskan korban. Yulia juga mendapat bukti berupa lokasi Wildan yang dikirim melalui WhatsApp.
"Saya berharap kakak saya tidak menjadi korban seperti yang banyak dibahas di medsos itu. Namun saya kaget ketika kakak saya bisa menghubungi saya posisinya sudah di Myanmar dan menjadi korban sindikat penjualan tenaga kerja. Ia minta tolong dicarikan uang 100 juta karena sudah tidak tahan menghadapi siksaan. Semua korban dari Indonesia nggak bisa lapor ke KBRI, lokasinya ini jauh sekali," ungkap Yulia.
Dari situ, Wildan sering menghubungi tapi di bawah ancaman untuk meminta segera ditransfer uang 100 juta. "Kami dari mana bisa menyediakan uang sebesar itu. Kami bukan orang berada," ungkap Yulia seraya menyebutkan setiap menghubungi keluarganya di Bandung diberi waktu dua jam, uang harus ada, kalau tidak di siksa.
Terakhir menghubunginya pada Kamis (25/1/2024), posisinya sudah dijual lagi ke sindikat lain masih di Myanmar. Kali ini permintaan tebusannya naik jadi Rp 150 juta dan mengirim tiga orang Indonesia pengganti Wildan. "Ancamannya, kalau tidak segera di transfer akan dimasukkan ke penjara di bawah tanah. Dan sejak itu, sampai hari ini (Jumat, 2 Pebruari 2024), tidak ada lagi WA dari kakak saya itu," ungkap Yulia.
Yulia mengaku khawatir dengan kondisi kakaknya yang diperlakukan secara tidak manusiawi. Ia mengatakan, Wildan harus bekerja tanpa libur selama 20 jam sehari. Ia juga tidak tahu apakah kakaknya mendapat makanan yang cukup dan layak atau tidak.
Yulia berharap, pemerintah dapat segera bertindak dan membantu pemulangan kakaknya. Ia juga meminta agar pihak berwenang menindak tegas agen PMI yang menipu dan menyelundupkan pekerja Indonesia ke luar negeri.
"Kami mohon bantuan Pak Jokowi, Pak Menlu, Pak Kapolri, Pak Panglima, siapa pun yang bisa menolong kami. Kami hanya ingin kakak saya pulang dengan selamat dan sehat. Kami juga ingin agar agen PMI yang menipu itu ditangkap dan dihukum seberat-beratnya," pinta Yulia.
@mpa
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!