Ibu Iis (61), "Pak Jokowi tolong anak saya pak. Tolong pak..."
Lapor Polisi
Setelah tahu kakaknya jadi korban perdagangan orang, Yulia yang diminta bantuan oleh kakaknya itu, segera menempuh berbagai upaya untuk bisa menyelamatkan kakaknya yang sekarang dikuasai jaringan perdagangan orang. Ia sudah melapor ke Polda Jabar, Bareskrim, Kemenlu, hingga BP2MI, namun belum ada hasil yang memuaskan. Ia hanya diminta bersabar dan bersabar, padahal semua bukti sudah ia serahkan. Ia juga didampingi oleh relawan pengacara yang terus berusaha sampai sekarang.
"Semuanya (upaya) itu sudah dilakukan pokoknya. Bukti-bukti sudah diserahkan termasuk permintaan tebusan uang, sampai akhirnya saya memberanikan diri melaporkan ke polisi, tapi sampai sekarang tidak ada hasilnya," ungkap Yulia.
Yulia mengatakan, sejak tiba di Thailand, komunikasi dengan Wildan masih lancar. Namun, sejak Maret 2023, komunikasi terputus dan ia tidak tahu keberadaan kakaknya. Hingga akhirnya, pada November 2023, Wildan menghubungi ibunya dan mengatakan bahwa ia harus membayar 150 juta rupiah ke perusahaan untuk bisa pulang. Posisinya sendiri sudah ada di Myanmar, semuanya tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan agen pengirim PMI yang katanya dipekerjakan di perusahaan gadget di Thailand.
"Suami saya cari tahu lah, banyak yang diarahkan dari Thailand ternyata tidak ada di Thailand, tapi jadi korban trafficking di Myanmar. Jadi banyak konten kreator yang bukan itu membahas masalah perdagangan orang Indonesia di Myanmar," kata Yulia.
Yulia menambahkan, ia mendapat informasi dari akun YouTube di Indonesia yang mengungkap modus perdagangan manusia di Myanmar. Sindikat tersebut meminta uang tebusan sebesar 100 juta rupiah dan tiga orang pekerja pengganti untuk melepaskan korban. Yulia juga mendapat bukti berupa lokasi Wildan yang dikirim melalui WhatsApp.
"Saya berharap kakak saya tidak menjadi korban seperti yang banyak dibahas di medsos itu. Namun saya kaget ketika kakak saya bisa menghubungi saya posisinya sudah di Myanmar dan menjadi korban sindikat penjualan tenaga kerja. Ia minta tolong dicarikan uang 100 juta karena sudah tidak tahan menghadapi siksaan. Semua korban dari Indonesia nggak bisa lapor ke KBRI, lokasinya ini jauh sekali," ungkap Yulia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!