Forum Sesepuh NU di Tebuireng Bahas Penanganan Bencana Aceh–Sumatra dan Polemik Internal PBNU
Agenda kedua forum membahas dinamika internal PBNU yang memanas setelah diumumkannya keputusan pemakzulan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. Para sesepuh menilai bahwa langkah pemakzulan tersebut tidak memenuhi prosedur yang diatur dalam AD/ART NU, khususnya terkait mekanisme syuriyah yang harus melibatkan unsur lengkap dan tata cara keputusan kolektif. Mereka menilai bahwa keputusan tersebut diambil secara terburu-buru dan berpotensi menimbulkan kegaduhan berkepanjangan di tubuh jam’iyyah.
Namun forum juga menyoroti bahwa terdapat laporan kuat mengenai dugaan kekeliruan atau pelanggaran administratif dalam beberapa keputusan ketua umum. Para sesepuh menekankan bahwa dugaan tersebut tidak boleh diabaikan dan harus ditelaah melalui mekanisme organisasi yang sah, bukan melalui tindakan di luar prosedur. Mereka menegaskan bahwa NU memiliki tradisi panjang dalam menyelesaikan perbedaan pendapat melalui *musyawarah*, bukan konfrontasi.
Forum kemudian merekomendasikan agar Rapat Pleno PBNU untuk menetapkan pejabat (PJ) ketua umum tidak diselenggarakan sampai seluruh proses tabayyun, klarifikasi, dan musyawarah diselesaikan secara tuntas. Para kiai menilai bahwa jika pleno dipaksakan, maka akan muncul potensi perpecahan yang lebih besar, mengingat situasi internal NU sedang sensitif dan banyak warga NU di akar rumput menunjukkan kegelisahan.
Forum juga mengeluarkan seruan moral kepada seluruh pengurus dan kader NU agar tidak melibatkan pihak luar, baik lembaga pemerintah maupun kelompok politik, dalam menyelesaikan persoalan internal PBNU. Mereka menegaskan bahwa menjaga kedaulatan organisasi adalah prinsip penting agar NU tetap berdiri sebagai jam’iyyah independen yang mengutamakan kemaslahatan umat.
Silaturahmi tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting NU, baik secara fisik maupun daring. Hadir KH Ma’ruf Amin (via Zoom), KH Said Aqil Siradj, KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, KH Abdullah Ubab Maimoen (via Zoom), Nyai Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid (via Zoom), dan Nyai Hj Mahfudloh Aly. Sementara dari unsur Syuriyah–Tanfidziyah PBNU hadir H Mohammad Nuh, KH Ali Akbar Marbun, KH Said Asrori, KH Mu’adz Thohir, H Nur Hidayat, KH Yahya Cholil Staquf, serta beberapa pengurus lain. Juru bicara forum, HM Abdul Mu’id Lirboyo, menegaskan bahwa forum ini digelar bukan untuk memperkeras konflik, tetapi untuk mencari jalan terbaik agar NU tetap berada di rel khittahnya dan mampu merespons persoalan bangsa secara lebih bijaksana.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!